Teater Lakarsantri Berjuang, Cara Siswa SMA di Surabaya Nyalakan Semangat Pahlawan Lewat Seni
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Peringatan Hari Pahlawan di SMA Negeri 13 Surabaya tahun ini terasa istimewa. Bukan sekadar upacara bendera, para siswa menghadirkan sebuah pementasan teatrikal bertajuk “Lakarsantri Berjuang” yang menghidupkan kembali semangat perjuangan rakyat pasca-kemerdekaan melalui sentuhan seni dan emosi.
Drama yang digarap secara mandiri oleh siswa ini mengangkat kisah fiksi tentang perjuangan rakyat Lakarsantri—sebuah wilayah yang jarang disebut dalam buku sejarah. Meski fiktif, cerita ini dibangun di atas nilai-nilai universal tentang kepahlawanan, keberanian, dan pengorbanan.
Sutradara sekaligus penggagas naskah, Nuzulul Rizky Mahesa, menjelaskan bahwa kisah fiksi ini justru dirancang agar siswa lebih mudah memahami bahwa kepahlawanan tidak hanya milik tokoh besar.
“Kami ingin anak-anak menyadari bahwa pahlawan bisa berasal dari mana saja. Bahkan masyarakat kecil di pelosok pun punya peran besar dalam perjuangan,” ujarnya.
Teater “Lakarsantri Berjuang” menampilkan tiga tokoh sentral: Pak Lurah, Bu Lurah, dan Kiai. Ketiganya mewakili kekuatan sipil, peran perempuan, dan aspek spiritual dalam perjuangan rakyat. Pementasan ini pun memadukan dialog emosional, musik perjuangan, hingga strategi perang klasik Supit Urang yang diadaptasi dari kisah Mahabharata dan pernah digunakan Jenderal Sudirman pada 1945.
M. Pasha Faizal Dewantara, pemeran Pak Lurah, mengaku banyak belajar dari karakter yang ia mainkan.
“Pak Lurah ini pemimpin yang tidak hanya memerintah, tapi juga turun langsung berjuang bersama rakyat. Itu pesan besar tentang kepemimpinan yang sejati,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto