Profesi Teknisi Gigi Langka Tapi Menjanjikan, Peluang Karier Terbuka Lebar di Indonesia
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Di balik senyum sempurna dengan gigi tiruan berkualitas, ada profesi yang jarang terdengar namanya, teknisi gigi. Berbeda dengan dokter gigi yang berhadapan langsung dengan pasien, teknisi gigi bekerja di balik layar tepatnya di laboratorium dental untuk menciptakan gigi tiruan, alat ortodonti, hingga prostesis wajah seperti mata buatan.
Profesi ini ternyata memiliki prospek cerah dengan minimnya tenaga ahli di Indonesia. Meski masih banyak orang yang belum mengenal profesi ini, peluang kariernya terus terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan gigi berkualitas.
Teknisi gigi memiliki peran spesifik dalam dunia kesehatan gigi. Mereka tidak menangani pasien secara langsung, melainkan mengerjakan pesanan dari dokter gigi di laboratorium dental.
Tugasnya mencakup pembuatan gigi tiruan lepasan maupun permanen, prostesis wajah seperti mata buatan, hingga alat ortodonti untuk merapikan gigi. Dokter gigi bertindak sebagai klien yang memesan protesa sesuai kebutuhan pasien.
Proses kerjanya bersifat kolaboratif. Dokter gigi akan memberikan spesifikasi detail kepada teknisi gigi, mulai dari bentuk, warna, hingga ukuran gigi tiruan yang dibutuhkan. Setelah protesa selesai dibuat, teknisi menyerahkannya kepada dokter gigi untuk dipasang ke pasien.
Hubungan kerja ini menunjukkan bahwa perawatan gigi yang berkualitas lahir dari kerja sama tim medis, bukan hanya hasil kerja dokter gigi semata.
Untuk menjadi teknisi gigi, seseorang harus menempuh pendidikan formal setingkat Diploma III (D3) atau Diploma IV (D4) Teknologi Kesehatan Gigi. Beberapa perguruan tinggi dan politeknik di Indonesia menyediakan program ini, salah satunya Universitas Airlangga dengan program D4 di Fakultas Vokasi.
Perbedaan D3 dan D4 terletak pada kedalaman materi dan prospek karier. Program D4 menawarkan pembelajaran yang lebih kompleks, ditujukan untuk mendukung praktik dokter gigi spesialis. Lulusan D4 juga memiliki kesempatan melanjutkan studi ke jenjang S2 di program spesialis kedokteran gigi tertentu.
Profesi ini berada di bawah regulasi Kementerian Kesehatan RI, sehingga lulusan harus memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) untuk praktik. Hal ini memastikan bahwa setiap teknisi gigi yang bekerja telah memenuhi standar kompetensi nasional.
Salah satu tantangan terbesar dalam profesi ini adalah minimnya jumlah tenaga teknisi gigi, sementara kebutuhan akan protesa terus meningkat setiap tahun. Rasio teknisi gigi di Indonesia masih jauh dari ideal dibandingkan dengan negara-negara maju.
Perkembangan teknologi digital dentistry juga menuntut teknisi gigi untuk terus belajar agar tidak tertinggal. Teknologi seperti 3D printing untuk gigi tiruan dan CAD/CAM (Computer-Aided Design/Computer-Aided Manufacturing) kini mulai diterapkan di laboratorium modern.
Teknisi gigi masa kini tidak hanya harus menguasai teknik manual tradisional, tetapi juga harus familiar dengan perangkat lunak desain dan mesin-mesin digital. Adaptasi terhadap teknologi baru menjadi kunci bertahan dalam profesi ini.
Selain itu, profesi ini masih kurang dikenal masyarakat luas. Banyak orang yang baru tahu keberadaan teknisi gigi ketika mereka atau keluarganya membutuhkan gigi tiruan. Minimnya eksposur membuat profesi ini kurang diminati generasi muda, padahal prospeknya menjanjikan.
Meski tantangannya besar, profesi teknisi gigi menawarkan peluang karier yang sangat luas. Lulusan dapat bekerja di laboratorium dental swasta, klinik gigi, rumah sakit pemerintah maupun swasta, hingga perusahaan yang bergerak di bidang alat dan bahan kedokteran gigi.
Tidak sedikit pula teknisi gigi yang membuka usaha mandiri dengan mendirikan laboratorium dental pribadi. Dengan modal keterampilan dan jaringan dokter gigi yang luas, bisnis ini bisa sangat menguntungkan. Investasi awal untuk peralatan memang cukup besar, namun return-nya sepadan dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Sejalan dengan perkembangan teknologi kesehatan gigi dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya estetika gigi, kebutuhan akan teknisi gigi diprediksi terus meningkat di masa depan. Tren dental tourism di Indonesia juga membuka peluang bagi teknisi gigi untuk bekerja di klinik-klinik internasional.
Dengan minimnya tenaga teknisi gigi di Indonesia, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang profesi ini. Edukasi sejak dini tentang berbagai profesi kesehatan, termasuk teknisi gigi, dapat membantu menarik minat generasi muda.
Pemerintah juga diharapkan memberikan dukungan lebih besar, baik dari segi regulasi, pelatihan, maupun insentif bagi tenaga teknisi gigi untuk terus berkembang dan berinovasi. Standardisasi kompetensi dan sertifikasi internasional juga perlu diperkuat agar teknisi gigi Indonesia bisa bersaing di pasar global.
Dengan peran pentingnya dalam dunia kesehatan gigi, teknisi gigi layak mendapat perhatian lebih dan pengakuan yang setara dengan profesi kesehatan lainnya. Tanpa mereka, layanan gigi tiruan berkualitas tidak akan pernah sampai ke tangan pasien.
Penulis
Ayni Refah ( Mahasiswa Teknologi Kesehatan Gigi Unair )
Editor : Arif Ardliyanto