Sejarah Baru Pendidikan Surabaya, 32 Kampus Sepakat Buka 23.850 Kuota Beasiswa Anak Kurang Mampu
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Harapan baru bagi ribuan anak Surabaya untuk mengenyam pendidikan tinggi akhirnya terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, perguruan tinggi negeri dan swasta duduk bersama, menyatakan komitmen yang sama: memberi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar bisa melangkah hingga bangku kuliah.
Sebanyak 32 pimpinan perguruan tinggi, terdiri dari 24 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 8 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), berkumpul di Balai Kota Surabaya, Kamis (5/2/2026). Mereka sepakat membuka 23.850 kuota beasiswa pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera, sebuah angka yang mencerminkan skala program yang belum pernah terjadi sebelumnya di Kota Pahlawan.
Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara rektor-rektor perguruan tinggi dengan Pemerintah Kota Surabaya. Hadir langsung Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, bersama sejumlah pimpinan kampus, di antaranya Rektor Universitas Wijaya Putra Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum, Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T, Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, M.Si, Rektor Universitas Hang Tuah Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, serta Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Program ini merupakan implementasi nyata dari Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pemberian Bantuan Biaya Pendidikan, sekaligus menandai perubahan arah kebijakan penting. Untuk pertama kalinya, bantuan biaya kuliah dari Pemkot Surabaya tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa PTN, tetapi juga mahasiswa PTS.
Di hadapan para rektor, Eri Cahyadi tak mampu menyembunyikan emosinya. Ia berkaca-kaca saat mengenang ketimpangan yang selama ini terjadi.
“Saya sangat terharu. Saya merasa ini jalan yang benar. Selama ini kebijakan kita kurang tepat, karena ada penerima beasiswa yang ternyata masih mampu, bahkan datang naik mobil,” ujar Eri dengan suara bergetar.
Menurut Eri, kebijakan baru ini lahir dari semangat “Satu Keluarga Satu Sarjana” yang lebih adil dan inklusif. Ia menegaskan, kecerdasan dan potensi anak Surabaya tidak boleh dibatasi oleh pilihan kampus.
“Potensi anak-anak Surabaya tidak boleh terbentur status perguruan tinggi. Kriterianya jelas: kebutuhan ekonomi dan prestasi akademik, bukan PTN atau PTS. Dengan kebijakan ini, pemerintah hadir untuk semua,” tegasnya.
Apresiasi atas langkah Pemkot Surabaya datang dari kalangan perguruan tinggi. Rektor Universitas Wijaya Putra, Dr. Budi Endarto, menilai kerja sama ini bukan sekadar formalitas, melainkan tonggak penting dalam kebijakan pendidikan daerah.
“Penandatanganan ini bukan hanya kerja sama administratif, tetapi wujud nyata kebijakan redistributif dan perlindungan sosial yang progresif. Selama ini, bantuan sering terpusat di PTN, sehingga membatasi pilihan warga kurang mampu,” jelasnya.
Ia menyebut, dengan diberlakukannya Perwali Nomor 4 Tahun 2026, Pemkot Surabaya menunjukkan komitmen kuat pada keadilan substantif dalam pendidikan, membuka akses seluas-luasnya bagi keluarga prasejahtera untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas di mana pun mereka belajar.
Lebih jauh, Dr. Budi menegaskan kesiapan Universitas Wijaya Putra menjadi mitra strategis pemerintah. Skema bantuan dengan nilai hampir Rp 200 miliar itu dinilai mampu mencegah putus kuliah, mengurangi kesenjangan sosial, sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Surabaya.
Senada, Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro menyatakan keterlibatan kampusnya sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah dan penguatan daya saing global.
“Sebagai kampus nasionalis, Untag Surabaya berkomitmen penuh mendukung program satu KK satu sarjana. Program ini tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga memperkuat kualitas lulusan agar mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, internasionalisasi Untag Surabaya terus diperkuat melalui pengembangan kurikulum global, peningkatan riset dan publikasi internasional, serta jejaring kerja sama dengan institusi pendidikan dan industri dunia.
Kolaborasi antara Pemerintah Kota Surabaya dan puluhan perguruan tinggi ini diharapkan menjadi titik balik bagi ribuan keluarga prasejahtera. Dari Balai Kota Surabaya, sebuah pesan kuat disuarakan: pendidikan tinggi bukan lagi mimpi yang mahal, melainkan hak yang bisa diraih oleh semua anak Surabaya.
Editor : Arif Ardliyanto