Garam Lokal Indonesia Incar Ekspor ke Jepang 2026, Ini yang Disiapkan Produsen Indonesia pada Petani
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Garam lokal Indonesia tak lagi ingin sekadar menjadi pemain di pasar dalam negeri. Dari lahan-lahan garam di Nusa Tenggara Timur, Madura, hingga Nusa Tenggara Barat, PT Sumatraco Langgeng Makmur menatap target yang lebih jauh: menembus pasar Jepang pada 2026.
Di balik kristal garam yang tampak sederhana, terdapat proses panjang dan ketat yang menjadi kunci ambisi tersebut. PT Sumatraco Langgeng Makmur, perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan pengolahan garam, terus memperkuat fondasi kualitas sebagai bekal bersaing di pasar global.
Upaya itu dimulai dari hulu. Perusahaan meningkatkan kapasitas produksi garam di sejumlah daerah strategis, yakni 300 hektare di NTT, 200 hektare di Madura, dan 200 hektare di NTB. Garam dari lahan tersebut kemudian diolah secara profesional dengan standar mutu yang lebih tinggi dibandingkan produksi garam pada umumnya.
Seluruh proses pengolahan dilakukan di fasilitas pabrik Sumatraco yang berlokasi di Surabaya. Di tempat inilah standar mutu diterapkan secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan akhir.
Direktur Utama PT Sumatraco Langgeng Makmur, Nurhadi Wiyono, menegaskan bahwa kualitas merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, menjaga mutu bukan hanya untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab jangka panjang perusahaan.
“Menjaga kualitas bukan sekadar tuntutan pasar, tetapi merupakan komitmen perusahaan kepada konsumen dan mitra usaha. Kami percaya bahwa konsistensi mutu adalah fondasi utama dalam membangun kepercayaan jangka panjang,” ujar Nurhadi.
Untuk mewujudkan standar tersebut, pabrik Sumatraco dilengkapi dengan teknologi pengolahan modern serta didukung sumber daya manusia yang berpengalaman. Proses produksi dijalankan dengan mengedepankan efisiensi, kebersihan, keselamatan kerja, dan kepatuhan terhadap aspek lingkungan.
Hasilnya, produk garam yang dihasilkan tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tetapi juga memenuhi prinsip keberlanjutan industri, yang kini menjadi perhatian utama pasar global.
Seiring penguatan pasar domestik, Sumatraco mulai mematangkan langkah ekspansi ke luar negeri. Jepang, dengan Yokohama sebagai salah satu tujuan utama, dipilih karena dikenal memiliki standar tinggi terhadap kualitas dan keamanan pangan.
Nurhadi menilai Jepang sebagai pasar potensial, khususnya untuk kebutuhan industri pangan dan produk olahan. Namun, ia menyadari bahwa pasar tersebut menuntut kesiapan yang matang.
“Kami melihat peluang besar di pasar Jepang, terutama di Yokohama yang merupakan pusat industri dan distribusi. Karena itu, kami menyesuaikan standar produksi agar selaras dengan regulasi dan preferensi pasar Jepang, mulai dari kemurnian, keamanan pangan, hingga konsistensi spesifikasi produk,” jelasnya.
Dari sisi rantai pasok, Purchasing PT Sumatraco Langgeng Makmur, Mohammad Ishak, menambahkan bahwa persiapan ekspansi ke Jepang juga menuntut kedisiplinan tinggi dalam pemilihan bahan baku dan pengendalian kualitas sejak awal.
“Pasar Jepang sangat detail dan disiplin. Karena itu, kami memastikan bahan baku yang masuk benar-benar memenuhi spesifikasi, agar kualitas produk tetap stabil dari hulu hingga hilir,” kata Ishak.
Menurutnya, ekspansi ini bukan sekadar upaya bisnis, melainkan juga bentuk pembuktian bahwa garam lokal Indonesia mampu bersaing di pasar internasional jika dikelola secara profesional.
Dengan kombinasi konsistensi mutu, penguatan sistem produksi, serta visi ekspansi global, PT Sumatraco Langgeng Makmur optimistis dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam meningkatkan daya saing industri garam nasional. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperluas jaringan pasar, tanpa mengesampingkan prinsip kualitas dan profesionalisme.
Editor : Arif Ardliyanto