Penyakit Jantung Serang Usia 30–40 Tahun, RS di Surabaya Ini Buat Terobosan Penanganan Pasien
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Namun kini, ancamannya tak lagi identik dengan usia lanjut. Mereka yang berusia 30 hingga 40 tahun justru mulai mendominasi ruang-ruang perawatan jantung.
Perubahan tren ini menjadi alarm serius bagi dunia medis. Gaya hidup serba cepat, tekanan kerja, pola makan tinggi lemak, serta kurangnya aktivitas fisik disebut menjadi kombinasi yang memicu peningkatan kasus di usia produktif.
Melihat kondisi tersebut, Mayapada Hospital melalui unitnya di Surabaya menghadirkan terobosan layanan kardiovaskular terpadu yang dirancang untuk mempercepat penanganan sekaligus memperluas akses masyarakat di Jawa Timur hingga Indonesia Timur.

Chief Operating Officer Mayapada Healthcare, Hendy Widjadja, menegaskan bahwa kehadiran Heart & Vascular Center di Surabaya merupakan langkah strategis untuk menghadirkan layanan jantung berstandar tinggi tanpa harus ke luar negeri.
“Puji syukur, angka kematian operasi jantung kami nol persen. Dengan dibukanya Heart & Vascular Center di Surabaya ini, kami berharap dapat menjadi rujukan untuk Surabaya, Jawa Timur hingga Indonesia Timur,” ujarnya.
Pusat layanan ini tidak hanya ditujukan sebagai fasilitas regional, tetapi juga diproyeksikan menjadi model pengembangan layanan jantung di jaringan rumah sakit Mayapada lainnya di Indonesia.
Hospital Director Mayapada Hospital Surabaya, dr. Bona Fernando, BSc, M.D., FISQua, menekankan bahwa seluruh layanan kini terintegrasi dalam satu lokasi. Pasien tidak perlu lagi berpindah-pindah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan komprehensif.
“Kami ingin masyarakat tidak pusing lagi. Semua layanan ada di satu tempat. Tidak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan menyeluruh,” katanya.
Keunggulan utama layanan ini terletak pada kesiapan penanganan kegawatdaruratan jantung selama 24 jam penuh. Dokter spesialis jantung berjaga langsung di rumah sakit, bukan sekadar sistem on-call.
Fasilitas yang tersedia meliputi:
Cath-lab untuk tindakan intervensi seperti pemasangan ring jantung
Tim bedah toraks kardiovaskular untuk operasi bypass dan bedah jantung terbuka
Layanan rehabilitasi medik pascaoperasi
Chest Pain Unit (CPU) terintegrasi dengan IGD
Chest Pain Unit menjadi lini pertama dalam mendeteksi keluhan nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar. Evaluasi cepat dilakukan guna memastikan apakah gejala tersebut berhubungan dengan gangguan jantung atau tidak.
Menariknya, rumah sakit juga menyediakan skrining jantung gratis bagi pasien yang hasil pemeriksaannya tidak menunjukkan gangguan jantung. Kebijakan ini diharapkan mendorong masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan saat gejala muncul.
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular, dr. dr. Yan Efrata Sembiring, Sp.B, Sp.BTKV(K), mengungkapkan bahwa tren pasien usia muda semakin nyata.
“Dulu pasien rata-rata di atas 60 tahun. Sekarang banyak yang berusia 40 tahun, bahkan saya pernah menangani pasien usia 28 tahun. Ini alarm serius bagi kita semua,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit jantung bukan lagi sekadar risiko usia lanjut, tetapi juga gaya hidup. Karena itu, deteksi dini dan akses layanan cepat menjadi kunci penyelamatan nyawa.
Dengan integrasi layanan dalam satu atap, kesiapan tim medis 24 jam, fasilitas lengkap dari cath-lab hingga bedah jantung terbuka, serta dukungan deteksi dini melalui Chest Pain Unit, Mayapada Hospital Surabaya optimistis mampu memangkas antrean dan mempercepat tindakan medis.
Lebih dari sekadar pusat layanan kesehatan, Heart & Vascular Center ini diharapkan menjadi harapan baru bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia yang membutuhkan penanganan jantung cepat, tepat, dan berstandar tinggi—tanpa harus pergi jauh dari rumah.
Editor : Arif Ardliyanto