Alumni Program Pelatihan Berbagi Kisah di Surabaya, Cerita Suka Duka di India yang Ubah Jalan Hidup
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana hangat terasa di sebuah aula sekolah internasional di Surabaya ketika ratusan alumni program pelatihan di India saling bersalaman dan bertukar cerita. Bukan sekadar temu kangen, pertemuan itu menjadi ruang refleksi tentang bagaimana sebuah kesempatan belajar lintas negara mampu mengubah cara pandang dan meningkatkan kapasitas diri.
Para alumni tersebut merupakan peserta program Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC), sebuah skema kerja sama teknis yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar India untuk Indonesia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di sela pertemuan, beberapa alumni menceritakan pengalaman mengikuti pelatihan di berbagai kota di India. Ada yang mendalami teknologi informasi, ada pula yang belajar manajemen pemerintahan, telekomunikasi, hingga energi terbarukan. Bagi mereka, pengalaman tersebut bukan hanya soal materi kelas, melainkan juga tentang memahami budaya kerja dan membangun jejaring internasional.
Program ITEC sendiri telah berjalan sejak 15 September 1964 sebagai bagian dari inisiatif kerja sama teknis Pemerintah India melalui Kementerian Luar Negeri Pemerintah India. Skema ini dirancang untuk membantu negara-negara berkembang meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis, pertukaran kebijakan, serta transfer teknologi.
Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 158 negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia. Peserta yang lolos seleksi memperoleh beasiswa penuh, mulai dari biaya pelatihan, tiket perjalanan, akomodasi, hingga uang saku. Durasi pelatihan bervariasi, dari enam hari hingga enam minggu, tergantung bidang yang dipilih.
Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur dan Jawa Tengah, Manoj Bhat, menyebut minat peserta dari Indonesia tergolong tinggi. Setiap tahun, ratusan kandidat mendaftar untuk mengikuti program tersebut.
"Khusus wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, sekitar 40 peserta diberangkatkan setiap tahun. Sementara secara nasional, jumlah peserta Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 150 orang pada 2026," katanya.
Menurutnya, antusiasme itu menunjukkan kebutuhan peningkatan kompetensi yang semakin besar, terutama di tengah perkembangan teknologi dan transformasi digital yang cepat.
Di antara para alumni yang hadir, Eni Yusriani, Kepala Bidang Pengelolaan Statistik dan Persandian Dinas Kominfo Pemerintah Kota Madiun, ia menilai program tersebut memberi dampak nyata bagi peningkatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN).
Ia menyoroti pentingnya penguatan kompetensi di bidang teknologi informasi, statistik, dan keamanan data, terutama dalam mendukung pelayanan publik yang semakin berbasis digital. Menurutnya, kesempatan pelatihan internasional seperti ini dapat membuka perspektif baru dan memperkaya pengalaman aparatur daerah.
"Pertemuan alumni di Surabaya itu memperlihatkan satu hal: pengalaman belajar di luar negeri bukan hanya tentang sertifikat atau gelar tambahan. Lebih dari itu, ada proses pertukaran gagasan, adaptasi budaya, dan pembentukan jejaring profesional lintas negara," ucapnya.
Melalui penguatan jaringan alumni dan meningkatnya partisipasi peserta dari Indonesia, program ITEC diharapkan terus menjadi jembatan kerja sama Indonesia–India sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia nasional di tingkat global
Editor : Arif Ardliyanto