Transformasi Pemasaran Berubah, Begini Cara UMKM Bisa Naik Kelas di Era Digital
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah riuhnya geliat ekonomi kreatif, para pelaku UMKM kini tak lagi sekadar bersaing soal kualitas produk. Mereka juga dituntut cakap membaca peta pemasaran digital yang terus berubah. Salah satu strategi yang semakin diminati adalah influencer marketing—cara promosi berbasis kolaborasi dengan kreator konten yang dinilai lebih dekat dengan konsumen.
Namun di balik tren tersebut, tak sedikit pelaku usaha yang masih menyimpan kegelisahan. Berapa harga yang wajar? Bagaimana memastikan promosi benar-benar berdampak? Dan bagaimana jika hasilnya tak sesuai kesepakatan?
Keresahan inilah yang menjadi latar peluncuran platform pemasaran digital berbasis teknologi oleh PT Fluence Digital Sukses di Jatim Expo Surabaya. Acara tersebut turut dihadiri Founder perusahaan Anto Arifanto serta anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama.
Founder PT Fluence Digital Sukses, Anto Arifanto, menuturkan bahwa praktik kolaborasi antara brand dan kreator selama ini belum sepenuhnya transparan dan terukur. Banyak UMKM, khususnya di daerah, masih ragu karena belum ada sistem yang benar-benar mendokumentasikan proses kerja sama secara jelas.
“Kolaborasi harus sederhana, transparan, dan bisa diukur. Dengan sistem yang terdokumentasi, kedua belah pihak memiliki kepastian,” ujarnya.
Platform ini dirancang untuk menghadirkan sistem yang memungkinkan brand memantau performa kampanye secara real time. Skema yang digunakan berbasis performa, di mana pembayaran disesuaikan dengan capaian tayangan terverifikasi.
Model ini dinilai lebih adil, terutama bagi UMKM yang memiliki anggaran promosi terbatas namun ingin memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan berdampak pada peningkatan brand awareness maupun penjualan.
Tak hanya berbasis performa, platform tersebut juga menerapkan mekanisme escrow—penahanan dana sementara hingga pekerjaan dinyatakan selesai sesuai kesepakatan.
Co-Founder Arief Maulana menjelaskan bahwa pembayaran kepada kreator dilakukan otomatis setelah target terpenuhi. Seluruh proses tercatat dalam sistem sehingga lebih tertib dan transparan.
Langkah ini dinilai penting untuk membangun kepercayaan di ekosistem influencer marketing yang terus berkembang. Sebab selama ini, potensi sengketa antara brand dan kreator sering terjadi akibat kurangnya dokumentasi dan standar pelaporan yang jelas.
Digitalisasi UMKM memang menjadi agenda strategis pemerintah. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia terus meningkat. Namun belum semuanya mampu memanfaatkan pemasaran digital secara optimal.
Hambatan yang kerap muncul antara lain rendahnya literasi digital, kesulitan membaca data performa kampanye, hingga keterbatasan akses terhadap mitra promosi yang kredibel.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, menilai inovasi berbasis teknologi seperti ini dapat menjadi bagian dari solusi.
“Transparansi dan kemudahan akses menjadi kunci agar pelaku UMKM berani masuk ke pemasaran digital,” ujarnya.
Ke depan, penguatan literasi digital bagi UMKM dan kreator konten menjadi pekerjaan rumah bersama. Di era ketika konten dapat menggerakkan opini dan keputusan belanja dalam hitungan detik, tata kelola yang akuntabel menjadi fondasi utama.
Influencer marketing bukan lagi sekadar tren, tetapi telah menjadi bagian dari strategi bisnis modern. Dengan sistem yang lebih transparan, terukur, dan terlindungi, pelaku UMKM diharapkan semakin percaya diri menembus pasar digital—bahkan melampaui batas kota dan provinsi.
Surabaya hari itu bukan hanya menjadi lokasi peluncuran sebuah platform, tetapi juga saksi semangat baru: bahwa teknologi, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi jembatan bagi usaha kecil untuk tumbuh lebih besar di panggung digital Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto