get app
inews
Aa Text
Read Next : Kapolri Ziarah ke Makam Pahlawan Nasional Marsinah di Nganjuk

Kisah Haru KH Hasyim Asy’ari Sambut Tamu, Dari Cerita Pepaya hingga Jamuan Makan Bersama

Senin, 23 Februari 2026 | 04:37 WIB
header img
Cerita humanis KH Hasyim Asy’ari saat menerima tamu. Sikap rendah hati pendiri NU ini membuat setiap tamu merasa dihargai dan dicintai. Foto tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dalam tradisi Islam, memuliakan tamu bukan sekadar adab, melainkan cermin kemuliaan akhlak. Nilai itu benar-benar hidup dalam keseharian KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Pahlawan Nasional.

Di kediamannya yang sederhana, tamu datang silih berganti tanpa henti. Dari kiai, santri, petani, saudagar, hingga pejabat pamong praja—semuanya diterima dengan sikap yang sama: hormat, hangat, dan penuh perhatian.

Dikutip dari laman NU dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001), KH Saifuddin Zuhri menulis bahwa rumah Kiai Hasyim setiap hari tak pernah sepi. Jumlah tamu bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan orang.

Menariknya, tak ada jadwal khusus atau janji temu resmi. Siapa pun yang datang dengan niat baik akan diterima, bahkan ketika waktu istirahat sekalipun.

Meski tersedia khadam yang membantu menyajikan hidangan, Kiai Hasyim kerap turun langsung. Beliau sendiri yang meletakkan minuman di hadapan tamu. Jika pembantu sedang beristirahat, beliau tak segan mengambil suguhan dari ndalem—ruang tengah rumahnya.

Sikap sederhana ini membuat tamu merasa dihargai, bukan sekadar diterima.

Jika tamu datang bertepatan dengan waktu makan, hidangan akan langsung digelar. Tidak ada sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua duduk bersama.

Dengan tutur kata lembut dan perhatian yang tulus, setiap orang merasa menjadi yang paling dekat di hati Hadratussyekh. Bahkan ketika tamu datang berombongan, masing-masing tetap pulang dengan perasaan istimewa.

“Seolah-olah dialah yang paling disayang,” tulis Saifuddin Zuhri.

Itulah kekuatan akhlak: bukan pada kemewahan jamuan, melainkan pada kehangatan sikap.

Sebuah Pepaya dan Rasa Syukur

Ada kisah sederhana namun membekas. Suatu hari, seorang tamu datang membawa oleh-oleh buah pepaya. Alih-alih menerima biasa saja, Kiai Hasyim menyambutnya dengan wajah sumringah.

“Alhamdulillah, alhamdulillah, pucuk dicita ulam tiba. Saya sudah lama ingin buah pepaya,” ucap beliau berulang kali.

Ucapan terima kasih dan doa dipanjatkan dengan penuh kegembiraan. Padahal, mungkin saja pepaya itu bukan barang istimewa. Namun cara beliau menghargainya membuat sang pemberi merasa sangat berarti.

Di situlah letak kebesaran jiwa: mampu memuliakan pemberian sekecil apa pun.

Pertemuan Tahun 1943 di Tebuireng

Kenangan lain datang dari tahun 1943. Saat itu, Saifuddin Zuhri yang menjabat Pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Wilayah Jawa Tengah singgah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ia disambut hangat oleh Wahid Hasyim—putra Kiai Hasyim—yang kemudian mengantarnya menghadap sang ayah.

Saat memasuki ruangan, Zuhri mendapati Kiai Hasyim duduk bersila sambil membaca surat. Usianya telah lebih dari 70 tahun, namun penglihatannya masih tajam tanpa kacamata. Busana beliau sederhana: baju putih tanpa leher seperti piyama Jawa, bersarung, dan berserban.

Percakapan awal antara ayah dan anak berlangsung dalam bahasa Arab. Sesekali diselingi bahasa Jawa halus. Namun begitu mengetahui Zuhri berasal dari kalangan Pemuda Ansor, Kiai Hasyim langsung beralih menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasanya terucap halus, sistematis, dan runtut. Tidak ada kesan berjarak. Seolah beliau ingin memastikan tamunya merasa nyaman dan dimengerti.

Kisah-kisah ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia menjadi pelajaran tentang bagaimana seorang ulama besar mempraktikkan nilai Islam secara nyata: menghargai manusia tanpa melihat status sosial.

Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh protokoler, teladan KH Muhammad Hasyim Asy’ari terasa semakin relevan.

Bahwa memuliakan tamu bukan tentang jamuan mewah, tetapi tentang ketulusan hati.

Dan dari rumah sederhana di Tebuireng, pelajaran itu terus hidup—dari generasi ke generasi.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut