Ramadan di Balik Pagar Rehabilitasi, Menata Ulang Hidup dan Merawat Harapan untuk Pulang
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bhayangkara Indonesia (LRPPN-BI), Jalan Khairil Anwar, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, terasa hangat. Beberapa pria duduk melingkar di lantai, berbagi cerita sambil menunggu azan Maghrib.
Di hadapan mereka, segelas air dan kurma tersaji sederhana. Ramadan di tempat ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan rindu, menata ulang hidup, dan belajar kembali menjadi manusia yang utuh.
Azam, sudah hampir dua bulan setengah menjalani rehabilitasi. Ramadan kali ini menjadi pengalaman berbeda baginya. Jika dulu hari-harinya diisi kegelisahan dan dorongan sakau, kini ia memulai pagi dengan rutinitas yang teratur. “Setengah enam pagi sudah mulai aktivitas,” tuturnya pelan, Kamis (26/2/2026)
Hari diawali dengan absensi dan olahraga ringan, lalu bersih-bersih dari bagian depan hingga belakang kamar. Tak ada sudut yang luput. Bagi mereka, menjaga kebersihan ruang tinggal serupa dengan membersihkan diri sendiri, pelan-pelan, tetapi konsisten.
Selepas itu, mereka menunaikan salat Subuh berjemaah. Ada yang kembali merebahkan badan sejenak, ada pula yang memilih berbincang atau menonton televisi bersama sambil menunggu waktu sahur atau sarapan (bagi yang tidak berpuasa). Kebersamaan menjadi warna dominan. Satu layar televisi ditonton ramai-ramai, tawa kecil pecah di sela tayangan.
Setelah makan pagi, para penghuni mengikuti sesi kelompok, semacam terapi berbagi. Diruangan itu, cerita-cerita getir masa lalu mengalir tanpa penghakiman. Mereka belajar mengenali pemicu, menata emosi, dan menguatkan satu sama lain. Sesi berlangsung hingga menjelang Zuhur.
Usai salat dan makan siang, waktu istirahat satu jam terasa berharga. Namun hari belum selesai. Sore diisi sesi lanjutan hingga Asar. Barulah setelah itu suasana mencair. Ada yang kembali menonton televisi, ada yang berbincang santai di teras. Ramadan membuat ritme sedikit berbeda, menunggu Maghrib menjadi momen yang dinanti bersama. “Rasanya senang, agak bebas,” ujar Azam.
Bebas yang ia maksud bukan tanpa aturan, melainkan bebas dari ketergantungan yang dulu membelenggu. Sesekali rasa sakau masih membayangi, tetapi kini ia punya cara mengatasinya. “Kalau kepikiran, saya tidur atau nonton TV. Hilang sendiri,” katanya.
Di tempat ini, mereka belajar tentang kebersamaan dalam bentuk paling sederhana. Satu piring bisa dimakan bertiga atau berempat. Sebungkus roti dibagi rata. Saat berbuka, tak ada yang merasa lebih atau kurang. “Kebersamaan itu terasa sekali, apalagi waktu puasa begini,” ucap penghuni lain.
Ramadan juga menjadi ruang refleksi. Harapan-harapan kecil dirawat diam-diam. Ingin sembuh. Ingin bekerja lagi. Ingin pulang tanpa stigma. “Dimanusiakan saja,” kata seorang penghuni lirih. Ia berharap ketika kembali ke kampung halaman, orang-orang tak lagi memandangnya sebagai “sampah”, melainkan sebagai seseorang yang pernah tersesat dan sedang berusaha pulang.
Godaan dunia luar tentu masih ada. Salah satu yang mereka sadari adalah telepon genggam. Bagi sebagian penghuni, gawai menjadi pintu awal pergaulan yang menyeret pada lingkaran lama. “Kalau sudah keluar nanti, mungkin saya tidak pegang handphone dulu. Dari situ biasanya mulai,” ujarnya jujur.
Di balik pagar rumah rehabilitasi itu, Ramadan dijalani dengan disiplin dan doa. Tak ada kemewahan, tetapi ada rasa cukup. Tak ada keluarga di samping mereka, tetapi ada teman seperjuangan yang saling menguatkan.
Menjelang azan Maghrib, percakapan berhenti. Gelas-gelas diangkat bersamaan. Doa terucap lirih, penuh harap. Di LRPPN - BI, Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, melainkan tentang menemukan kembali harga diri.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Kamis (26/2/2026) mengunjungi LRPPN - BI.
Tujuannya, menyerahkan bantuan sosial (bansos) dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika di Jawa Timur (Jatim).
Kegiatan ini dihadiri Ketua Tim Penguatan Seni Budaya dan Penanganan Penyakit Masyarakat Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Nika Sarmuria Saragih dan juga Ketua Tim Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim dr. Singgih Widi Pratomo.
Nika menegaskan bahwa kegiatan ini bukan program rutin APBN, melainkan inisiatif untuk mendorong seluruh stakeholder, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, agar bersama-sama memberi perhatian kepada para klien rehabilitasi. “Saya minta nilai bantuan tidak dipublikasikan agar tidak membatasi potensi dukungan dari pihak lain,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto