Temukan Limbah di Pantai Kenjeran, Siswa SD Surabaya Ini Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana berbeda terasa di aula Cita Hati Christian Elementary School Pakuwon City Campus. Bukan sekadar pameran tugas sekolah, tetapi panggung gagasan dan kepedulian. Siswa kelas 6 tampil percaya diri mempresentasikan hasil riset mereka tentang isu-isu global yang diterjemahkan menjadi aksi nyata di lingkungan sekitar.
Melalui ajang PYP Exhibition, para siswa membuktikan bahwa belajar bukan hanya menghafal teori. Mereka mengamati, meneliti, berdiskusi, hingga menawarkan solusi konkret atas persoalan yang mereka temui langsung di lapangan.
PYP Exhibition merupakan bagian penting dari kurikulum International Baccalaureate melalui program Primary Years Programme (IB PYP). Di tahap ini, siswa didorong untuk menjalani proses pembelajaran berbasis inquiry—mulai dari menyusun pertanyaan penelitian, melakukan observasi, mengumpulkan data, hingga mempresentasikan solusi yang bisa diimplementasikan.

Kepala Sekolah SD Cita Hati Pakuwon City, Ivo Aprianti, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi refleksi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
“PYP Exhibition adalah kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bagaimana mereka belajar, berpikir, dan bertindak. Mereka tidak hanya memahami isu global, tetapi juga berani mengambil peran nyata,” ujarnya.
Tema yang diangkat para siswa selaras dengan tantangan global dan sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari isu lingkungan, sosial, hingga keberlanjutan.
Berawal dari Pantai Kenjeran
Salah satu proyek yang mencuri perhatian datang dari tim kelas 6A yang beranggotakan lima siswa, termasuk Wayne Rainer Sumargo dan Joyous Faith Komala.
Berbekal rasa ingin tahu, mereka melakukan observasi di kawasan Pantai Kenjeran. Di sana, mereka menemukan fakta yang mengusik: limbah minyak jelantah yang dibuang ke laut oleh sebagian warga.
Lapisan minyak yang mengapung di permukaan air laut berpotensi menghambat masuknya oksigen. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam plankton, ikan, hingga merusak ekosistem pesisir.
“Awalnya kami hanya ingin tahu kenapa air terlihat berminyak. Setelah mencari informasi, kami sadar dampaknya bisa besar untuk kehidupan laut,” ungkap Joyous.
Alih-alih berhenti pada temuan masalah, mereka mencari solusi. Dari hasil riset, tim ini menemukan bahwa minyak jelantah dapat didaur ulang menjadi lilin aromaterapi yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis.
Proses eksperimen dilakukan secara bertahap. Mereka mempelajari teknik penyaringan minyak, pencampuran bahan, hingga uji coba aroma. Hasilnya, lilin aromaterapi yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga bisa menjadi produk kreatif bernilai jual.
“Kami belajar bahwa aksi kecil bisa berdampak besar. Daripada dibuang ke laut, minyak jelantah bisa diolah jadi sesuatu yang bermanfaat,” tambah Joyous.
Proyek sederhana ini menjadi contoh nyata bagaimana siswa sekolah dasar mampu berpikir kritis sekaligus berempati terhadap lingkungan.
PYP Exhibition tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga guru, orang tua, dan komunitas sekolah. Proses ini membangun keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, hingga refleksi diri.
Lebih dari sekadar nilai akademik, kegiatan ini membentuk karakter dan tanggung jawab sosial. Selaras dengan visi Character, Faith, and Wisdom, sekolah berkomitmen membina siswa agar tumbuh sebagai pribadi yang peduli dan siap menghadapi tantangan global.
PYP Exhibition tahun ini menjadi bukti bahwa pendidikan kontekstual mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keberanian untuk bertindak.
Dari ruang kelas hingga pesisir Kenjeran, langkah kecil para siswa ini menunjukkan satu pesan penting: perubahan besar bisa dimulai dari tangan-tangan kecil yang peduli.
Editor : Arif Ardliyanto