get app
inews
Aa Text
Read Next : Kawasan Industri SIER Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Jatim

Konflik AS-Iran Ancam Ekonomi Jatim, Harga Kedelai dan Biaya Ekspor Tertekan

Selasa, 03 Maret 2026 | 04:51 WIB
header img
Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran berpotensi menekan ekonomi Jawa Timur. Harga kedelai, biaya energi, dan ekspor terancam naik akibat gejolak global. (Foto: Tangkap layar).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Aroma kedelai rebus yang biasanya menguat dari sentra tempe di sejumlah sudut Jawa Timur kini dibayangi kecemasan. Bukan karena bahan baku langka, tetapi karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas di Timur Tengah.

Bagi pelaku usaha kecil, perang ribuan kilometer dari Indonesia itu terasa sangat dekat. Harga minyak dunia yang berpotensi melonjak, ongkos kirim internasional yang meningkat, hingga tekanan nilai tukar rupiah menjadi bayang-bayang baru bagi ekonomi Jawa Timur.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menilai eskalasi konflik global tersebut bisa menjalar cepat ke daerah.

“Dampak konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur datang dari dua arah: hubungan dagang langsung dan efek berantai kenaikan harga minyak serta gangguan perdagangan global,” ujarnya.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur vital yang kini menjadi kawasan paling sensitif. Jika ketegangan meningkat, harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran internasional hampir pasti terdorong naik.

Efeknya tidak berhenti di angka statistik global. Biaya transportasi dan distribusi barang ke Indonesia ikut terdongkrak. Di tingkat daerah, sektor yang paling cepat merasakan tekanan adalah pangan berbasis impor—terutama kedelai.

Indonesia masih mengimpor 2,5–3 juta ton kedelai per tahun. Nilai impornya dari Amerika Serikat saja menembus lebih dari USD 1 miliar. Jawa Timur, sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional, sangat bergantung pada pasokan tersebut.

Jika harga minyak dan ongkos kirim naik, landed cost kedelai otomatis meningkat. Risiko membesar apabila pelemahan rupiah ikut terjadi akibat sentimen risk-off global.

Bagi pelaku UMKM tempe dan tahu, margin usaha selama ini sudah sangat tipis. Kenaikan harga bahan baku bisa menjadi pukulan berat.

“Pilihan mereka tidak banyak. Menaikkan harga jual berisiko kehilangan pembeli, mengecilkan ukuran produk bisa memicu protes konsumen, sementara menghentikan produksi berarti kehilangan penghasilan,” jelas Adik.

Dampaknya tidak berhenti di meja makan. Bungkil kedelai juga menjadi bahan baku utama industri pakan ternak. Jika harga pakan naik, harga ayam dan telur bisa ikut terdorong, memicu inflasi pangan di tingkat daerah.

Dalam kondisi seperti ini, kekhawatiran bukan lagi soal ekspor atau neraca perdagangan, melainkan stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri, Tommy Kaihatu, menyebut kinerja ekspor Jawa Timur sejauh ini masih solid.

Nilai ekspor mencapai sekitar USD 30 miliar dengan surplus lebih dari USD 800 juta. Sekitar 10 persen di antaranya ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah.

Namun struktur ekspor Jatim yang didominasi manufaktur, agroindustri, dan industri pengolahan sangat sensitif terhadap biaya energi dan logistik.

Jika tarif kontainer dan asuransi ekspor naik, sementara kontrak bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus. Belum lagi potensi penurunan permintaan akibat ketidakpastian global.

“Tantangan kita bukan hanya volume ekspor, tetapi daya saing yang bisa turun karena biaya produksi dan fluktuasi kurs,” tegasnya.

Menghadapi situasi ini, Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur mendorong langkah antisipatif.

Jangka pendek (0–30 hari): Koordinasi cepat pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri.

Menjaga buffer stock kedelai untuk kebutuhan 1–2 bulan, Transparansi data stok guna mencegah spekulasi harga, Fasilitasi pembiayaan modal kerja UMKM pangan dan Pendampingan manajemen risiko kurs dan freight surcharge bagi eksportir.

Jangka menengah (1–6 bulan): Diversifikasi sumber impor kedelai agar tidak bergantung pada satu negara, Peningkatan efisiensi energi industri, dan Perluasan pasar ekspor ke kawasan non-konflik.

Meski tekanan global meningkat, Kadin Jatim menilai fundamental ekonomi Jawa Timur relatif kuat dan telah teruji menghadapi krisis sebelumnya.

Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan satu hal penting: respons cepat dan koordinasi lintas sektor menjadi penentu.

“Kita memang tidak bisa mengendalikan geopolitik global. Tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama,” tegas Adik.

Di tengah ketidakpastian global, harapan itu kini bertumpu pada sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan otoritas keuangan agar dapur UMKM tetap menyala, ekspor tetap bergerak, dan ekonomi Jawa Timur tetap tangguh.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut