Mahasiswa Ditantang Pecahkan Krisis Sampah Plastik, 3.600 Anak Muda Adu Gagasan Soal Kemasan
JAKARTA, iNewsSurabaya.id – Di tengah tumpukan 37 juta ton sampah yang dihasilkan Indonesia setiap tahun, harapan justru muncul dari ruang-ruang presentasi mahasiswa. Ribuan anak muda dari berbagai penjuru Tanah Air berkumpul, bukan sekadar berkompetisi, tetapi mencoba memecahkan persoalan pelik: bagaimana kemasan produk bisa lebih bertanggung jawab setelah digunakan.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, sekitar 19 persen timbulan sampah nasional berasal dari kemasan plastik. Ironisnya, tingkat daur ulang baru menyentuh 14 persen. Artinya, sebagian besar sampah masih berakhir tanpa pengelolaan optimal. Bahkan, hanya sekitar 30 persen sampah yang masuk sistem formal pemerintah daerah, sementara 58 persen rumah tangga belum memilah sampah secara konsisten.
Angka-angka itu menjadi latar dari GreenGeneration Sustainability Business Case Competition yang digelar Nestlé Indonesia. Ajang ini mengajak mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu merancang solusi sistem kemasan yang lebih sirkular—bukan hanya dari sisi desain, tetapi juga dari persoalan pasca-konsumsi.
“Kompetisi ini diselenggarakan untuk menjawab tantangan kemasan berkelanjutan di Indonesia yang tidak hanya terletak pada desain dan material, tetapi juga pada kesenjangan antara potensi daur ulang dan realitas pengelolaan sampah pasca-konsumsi,” ujar Antonio Prochilo, Technical Director Nestlé Indonesia.
Tercatat lebih dari 3.600 mahasiswa tergabung dalam 1.355 tim mengikuti proses seleksi. Ide-ide mereka dinilai berdasarkan kualitas gagasan, relevansi terhadap tantangan nasional, serta potensi implementasi nyata.
Seleksi ketat menyisakan 20 tim finalis atau sekitar 60 mahasiswa. Pada puncak acara 16 Februari 2026, lima tim terbaik mempresentasikan solusi mereka secara langsung di hadapan dewan juri lintas sektor, termasuk M. Bijaksana Junerosano, Founder & CEO Waste4Change.
Menurut Bijaksana, keterlibatan generasi muda menjadi krusial karena persoalan sampah bersifat sistemik dan membutuhkan pendekatan kolaboratif.
“Keterlibatan generasi muda dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah menjadi semakin krusial. Inisiatif seperti ini menunjukkan bagaimana ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah dapat mendorong lahirnya solusi yang lebih kontekstual dan aplikatif,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto