Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Persiba Bantul Tancap Gas Bangun Tim, Anton Resmi Ditunjuk Jadi Pelatih
Advertisement . Scroll to see content

Kacau! Banyak Laga WO di Liga TopSkor KU-14, Pembinaan Usia Muda Ternoda

Senin, 06 April 2026 | 05:14 WIB
  • author Saiful Arif
Kacau! Banyak Laga WO di Liga TopSkor KU-14, Pembinaan Usia Muda Ternoda
Pekan kelima Liga TopSkor KU-14 Sidoarjo menuai kritik akibat maraknya kemenangan WO. Pelatih soroti hilangnya menit bermain dan ancaman bagi pembinaan pemain muda. Foto alup

SIDOARJO, iNewsSurabaya.id — Pekan kelima Liga TopSkor KU-14 di Sidoarjo tak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan, tetapi juga memunculkan polemik serius. Di tengah semangat membina talenta muda sepak bola, kompetisi justru tercoreng oleh maraknya kemenangan walk over (WO) yang dinilai menggerus nilai sportivitas.

Sorotan tajam ini semakin terasa karena di satu sisi, pertandingan berjalan kompetitif. Seperti laga antara Tunas Jaya Sepande melawan Citra Kids yang berakhir imbang 1-1. Duel tersebut berlangsung terbuka dengan tempo tinggi, memperlihatkan kualitas permainan kedua tim.

Tunas Jaya sempat unggul lebih dulu, namun gagal mempertahankan keunggulan hingga akhirnya Citra Kids berhasil menyamakan skor. Hasil imbang ini menjadi bukti bahwa kompetisi sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembinaan yang sehat.


Pekan kelima Liga TopSkor KU-14 Sidoarjo menuai kritik akibat maraknya kemenangan WO. Pelatih soroti hilangnya menit bermain dan ancaman bagi pembinaan pemain muda. Foto alup

Pelatih Tunas Jaya Sepande, Zainuri, mengapresiasi kerja keras anak asuhnya meski belum mampu mengamankan kemenangan.

“Permainan anak-anak sudah bagus, tapi kami harus lebih fokus menjaga keunggulan. Ini jadi bahan evaluasi penting,” ujarnya.

Namun, pertandingan yang penuh semangat itu seakan tenggelam oleh persoalan yang lebih besar. Sejumlah laga lain pada pekan yang sama justru berakhir WO, memicu kekecewaan dari berbagai tim peserta.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius terkait koordinasi dan kesiapan penyelenggara. Beberapa tim merasa dirugikan karena kehilangan kesempatan bertanding, sementara tim lain justru mendapat keuntungan instan berupa tambahan poin tanpa harus turun ke lapangan.

Pelatih SSA, Achmad Andi, secara terbuka menyampaikan kritiknya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai maraknya WO sangat merugikan proses pembinaan pemain usia dini.

“Kompetisi ini seharusnya jadi wadah belajar, bukan hanya soal hasil. Kalau banyak WO, anak-anak kehilangan menit bermain, itu yang paling disayangkan,” tegasnya.

Bagi para pemain muda, setiap menit di lapangan adalah pengalaman berharga. Ketika pertandingan batal digelar, bukan hanya skor yang hilang, tetapi juga kesempatan untuk berkembang, belajar strategi, hingga membangun mental bertanding.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi penyelenggara Liga TopSkor KU-14. Tanpa evaluasi menyeluruh dan langkah perbaikan yang cepat, bukan tidak mungkin kepercayaan peserta akan mulai terkikis.

Pekan berikutnya pun kini dinantikan sebagai momentum pembenahan. Jika tidak ada perubahan signifikan, Liga TopSkor KU-14 dikhawatirkan akan kehilangan esensinya sebagai ajang pembinaan generasi muda sepak bola yang berkualitas.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut