Cak Imin Didorong Pengasuh Pesantren di Surabaya untuk Pimpin PBNU
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketua Panitia Pelaksana Pra-Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama (MLB NU), KH Mas Muhammad Maftuch mendukung dan berharap Muhaimin Iskandar (Cak Imin) maju sebagai Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Langkah ini dinilai sebagai momentum bagi Cak Imin untuk melakukan transformasi peran, dari arena politik praktis menuju pengabdian yang lebih reflektif dan substantif di jantung organisasi Nahdlatul Ulama.
Menurut Gus Maftuch, kiprah Muhaimin di panggung nasional selama lebih dari 27 tahun telah menempatkannya sebagai sosok yang matang dalam melewati berbagai dinamika kekuasaan. Dengan segudang pengalaman tersebut, Muhaimin dianggap telah mencapai puncak karier sebagai politisi.
“Sudah waktunya beliau mengambil peran yang lebih besar sebagai Pandito Ratu. Artinya, meninggalkan politik praktis dengan penuh kehormatan dan memilih jalan pengabdian untuk kemaslahatan umat melalui PBNU,” tutur Gus Maftuch di Surabaya, Senin (27/4/2026).
Gus Maftuch menambahkan bahwa mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU adalah ikhtiar untuk melepaskan diri dari kontestasi kekuasaan jangka pendek. Dengan modal jaringan yang luas dan pemahaman struktural yang kuat, Cak Imin diyakini mampu berkhidmat secara utuh bagi warga Nahdliyin dan bangsa Indonesia.
Secara historis dan genealogis, dukungan ini juga didasarkan pada silsilah Muhaimin sebagai cicit dari KH Bisri Syansuri, salah satu tokoh utama pendiri NU.
Gus Maftuch yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nur Muhammad Surabaya ini menegaskan bahwa garis keturunan tersebut memuat tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet perjuangan ulama dalam menjaga marwah organisasi.
“Garis keturunan ini bukan sekadar identitas simbolik. Ini adalah mandat historis bagi Gus Muhaimin untuk membimbing umat dan merawat nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, selaras dengan warisan keulamaan Mbah Bisri,” jelasnya.
Majunya Muhaimin dalam bursa Ketua Umum pada Muktamar PBNU mendatang dimaknai sebagai “jalan sunyi” yang bermartabat. Sebuah transisi dari kursi Ketua Umum PKB menuju nahkoda PBNU.
“Langkah ini bukanlah sebuah kemunduran, melainkan lompatan peran. Ini adalah perpindahan dari arena kontestasi menuju ruang pengabdian yang lebih substansial dan berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang NU,” pungkas Gus Maftuch.
Editor : Arif Ardliyanto