Tragedi 6 Diver Tewas di Maldives Jadi Pengingat Pentingnya Keselamatan Diving
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tragedi meninggalnya lima penyelam asal Italia di Maldives pada 14 Mei 2026 menjadi perhatian besar komunitas diving internasional. Kelima diver tersebut dilaporkan melakukan penyelaman di area underwater cave di sekitar Vaavu Atoll dengan kedalaman diperkirakan mencapai 50–60 meter.
Insiden tersebut semakin menyita perhatian setelah seorang diver penyelamat dari militer Maldives juga meninggal dunia akibat komplikasi dekompresi saat proses recovery korban. Total enam nyawa hilang dalam satu rangkaian kejadian yang disebut sebagai salah satu insiden diving paling serius tahun ini.
Penyelam scuba rekreasional sekaligus PADI Advanced Open Water Diver, Didik Prasetiyono, menilai tragedi tersebut menjadi pengingat penting bahwa laut selalu menuntut rasa hormat, bahkan bagi penyelam berpengalaman.
“Sebagian korban merupakan instruktur, peneliti laut, dan diver berpengalaman. Ini menunjukkan bahwa laut tetap memiliki risiko yang harus dihormati,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Korban meninggal dalam insiden tersebut antara lain profesor ekologi laut Universitas Genoa Monica Montefalcone, putrinya Giorgia Sommacal, peneliti kelautan Muriel Oddenino, lulusan marine ecology Federico Gualtieri, dive instructor Gianluca Benedetti, serta diver penyelamat militer Maldives Staff Sergeant Mohamed Mahudhee.
Menurut Didik, tragedi tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat takut terhadap aktivitas scuba diving. Ia menegaskan diving tetap menjadi salah satu olahraga dan wisata air dengan standar keselamatan yang tinggi apabila dilakukan sesuai prosedur.
“Jutaan penyelaman dilakukan aman setiap tahun di seluruh dunia. Diving itu bukan soal keberanian, tetapi disiplin, prosedur, dan kemampuan mengenali batas diri,” katanya.
Ia menjelaskan, semakin dalam penyelaman dilakukan maka tekanan air akan semakin besar. Kondisi tersebut membuat udara menjadi lebih padat, konsumsi gas meningkat lebih cepat, dan tubuh menyerap lebih banyak nitrogen. Pada kedalaman tertentu, penyelam juga berisiko mengalami nitrogen narcosis yang dapat memengaruhi konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Dalam dunia diving, penyelaman rekreasional umumnya memiliki batas kedalaman sekitar 18 meter untuk level Open Water Diver dan sekitar 30 meter untuk Advanced Open Water. Sementara batas maksimum recreational diving berada di kisaran 40 meter untuk diver berpengalaman dalam kondisi tertentu.
“Setelah melewati 40 meter, risiko fisiologis meningkat jauh lebih besar. Karena itu penyelaman di atas kedalaman tersebut biasanya sudah masuk kategori technical diving,” ujarnya.
Technical diving sendiri membutuhkan pelatihan tambahan, sertifikasi khusus, sistem keselamatan berlapis, hingga prosedur dekompresi yang lebih kompleks. Pada jenis penyelaman tersebut, diver biasanya menggunakan tabung ganda, campuran gas khusus seperti nitrox atau trimix, serta berbagai peralatan cadangan untuk mitigasi risiko.
Didik menambahkan, sebagian besar keindahan laut tropis justru berada pada kedalaman yang relatif aman untuk recreational diving, yakni sekitar 5–20 meter. Pada kedalaman tersebut, penyelam dapat menikmati terumbu karang, schooling fish, hingga penyu dengan risiko yang lebih rendah.
“Diving sebenarnya bukan kompetisi. Tidak ada medali untuk penyelam terdalam. Yang paling penting adalah semua bisa kembali ke permukaan dengan selamat,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memilih operator diving profesional, mengikuti briefing, memahami batas sertifikasi, menjaga kondisi tubuh tetap fit, serta berani membatalkan penyelaman jika kondisi dirasa tidak aman.
“Dalam dunia diving ada ungkapan terkenal, ‘Any diver can cancel any dive, at any time, for any reason.’ Itu adalah inti budaya keselamatan dalam penyelaman,” ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto