Tren Olahraga Dongkrak Permintaan Layanan Fisioterapi di Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan aktivitas olahraga mendorong pertumbuhan layanan fisioterapi di Indonesia. Melihat tren tersebut, Physiorehab memperluas jaringannya dengan membuka cabang baru di kawasan Surabaya Barat.
Owner Physiorehab, Simon Tri Prasetyo, mengatakan perkembangan industri fisioterapi mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mulai aktif berolahraga sehingga kebutuhan akan layanan pemulihan cedera ikut meningkat.
"Belakangan ini klinik fisioterapi berkembang luar biasa. Untungnya Physiorehab sudah memulai sejak 2019. Setelah Covid-19, pertumbuhannya meningkat sangat pesat karena banyak orang mulai berolahraga dan lebih peduli terhadap kesehatan," kata Simon, Senin (15/6/2026).
Physiorehab sendiri telah berkembang menjadi salah satu jaringan klinik fisioterapi dengan lebih dari 10 cabang di Indonesia. Pembukaan cabang Surabaya Barat dilakukan untuk menjawab tingginya permintaan pasien, khususnya dari wilayah barat Kota Surabaya.
Menurut Simon, selama ini banyak pasien dari Surabaya Barat harus menempuh perjalanan hingga 40 menit untuk mendapatkan layanan di cabang Surabaya Timur yang telah beroperasi lebih dulu.
"Banyak pasien dari Surabaya Barat yang meminta kami membuka cabang di wilayah ini. Cabang Surabaya Timur juga sudah mencapai kapasitas maksimal sehingga kami memutuskan hadir lebih dekat dengan pasien," ujarnya.
Cabang baru tersebut berlokasi di kawasan strategis dengan akses yang mudah dijangkau dan area parkir yang luas. Selain itu, Physiorehab mengusung konsep layanan berbasis kenyamanan dengan ruang perawatan privat (private room) serta peralatan terapi dan rehabilitasi yang modern.
Simon menjelaskan, cabang Surabaya Barat memiliki kapasitas layanan hingga 10 pasien setiap jam. Seluruh layanan dilakukan berdasarkan sistem janji temu (by appointment only) untuk memastikan pasien mendapatkan waktu terapi yang optimal tanpa harus menunggu lama.
"Per jam kami bisa menangani 10 pasien. Sistemnya by appointment sehingga pelayanan lebih tertata dan pasien tidak perlu menunggu terlalu lama," katanya.
Selain fasilitas terapi, klinik ini juga dilengkapi berbagai alat latihan rehabilitasi yang digunakan untuk mendukung proses pemulihan cedera tulang, otot, dan sendi.
Sebagai klinik yang berfokus pada kasus muskuloskeletal, Physiorehab menangani berbagai gangguan pada tulang, otot, sendi, dan saraf. Kasus yang paling sering ditemui antara lain nyeri punggung bawah, saraf terjepit, cedera lutut, cedera pergelangan kaki (ankle), hingga pemulihan pascaoperasi.
"Kasus yang paling banyak adalah sakit pinggang atau saraf terjepit. Selain itu, banyak juga pasien pascaoperasi lutut akibat cedera ACL, meniskus, maupun cedera olahraga lainnya," ujar Simon.
Ia menjelaskan, pemulihan pascaoperasi lutut umumnya membutuhkan waktu antara delapan hingga 12 bulan dan memerlukan pendampingan fisioterapi secara berkelanjutan.
Saat ini, meningkatnya popularitas olahraga seperti padel, badminton, basket, hingga lari juga berkontribusi terhadap tingginya jumlah pasien yang datang untuk menjalani rehabilitasi cedera.
Untuk cedera ringan yang sering dialami pelari, seperti keseleo pergelangan kaki, shin splint, maupun iliotibial band syndrome (ITB syndrome), proses pemulihan umumnya berlangsung lebih cepat.
"Kalau kasus ringan seperti cedera pada pelari, biasanya bisa pulih dalam waktu kurang dari satu bulan atau setelah tiga hingga empat kali sesi terapi," jelasnya.
Dalam menjalankan layanannya, Physiorehab juga menjalin kerja sama dengan berbagai dokter spesialis ortopedi dan saraf, baik di Surabaya maupun luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.
Simon menegaskan, apabila pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti MRI, rontgen, atau tindakan medis lainnya, pihak klinik akan merujuk pasien ke dokter spesialis yang sesuai.
"Jika kasus membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut atau tindakan medis tertentu, kami akan merujuk pasien ke dokter spesialis. Jadi pasien tetap mendapatkan penanganan yang komprehensif," katanya.
Editor : Arif Ardliyanto