Dokter Estetika Ingatkan Pentingnya Diagnosis Sebelum Memilih Treatment Kulit
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah maraknya tren perawatan kulit, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa setiap masalah kulit membutuhkan penanganan yang berbeda.
Tidak sedikit orang memilih treatment hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi teman, tanpa mengetahui kebutuhan kulitnya sendiri.
Founder Clariskin Clinic, dr. Junivan Lindra, M.Biomed (AAM), mengatakan salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa semua jenis treatment dapat saling menggantikan. Padahal, setiap perawatan memiliki fungsi yang berbeda sesuai kondisi kulit masing-masing pasien.
"Masih banyak masyarakat yang bingung memilih treatment. Ada yang datang lalu bertanya lebih baik skin booster, salmon DNA, atau collagen stimulator. Padahal kebutuhan setiap orang berbeda dan harus didasarkan pada diagnosis kondisi kulitnya," ujar dr. Junivan, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, secara umum kulit membutuhkan tiga aspek utama untuk tetap sehat, yakni nutrisi (nutrition), perbaikan jaringan kulit (repair), dan stimulasi kolagen. Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
Perawatan yang berfokus pada perbaikan jaringan kulit, misalnya, ditujukan untuk membantu memperbaiki skin barrier atau lapisan pelindung kulit. Sementara treatment berbasis nutrisi bertujuan menjaga kelembapan dan kesehatan kulit, sedangkan stimulasi kolagen diperlukan untuk membantu menjaga elastisitas serta mengurangi tanda-tanda penuaan.
Ia menjelaskan, kerusakan skin barrier menjadi salah satu masalah yang banyak ditemukan di Indonesia. Kondisi tersebut sering dipicu penggunaan produk perawatan yang tidak sesuai atau mengandung bahan berisiko sehingga kulit menjadi tipis, sensitif, mudah kemerahan, hingga muncul flek.
"Banyak orang ingin hasil instan. Akibatnya mereka menggunakan produk yang tidak tepat sehingga skin barrier rusak. Ketika lapisan pelindung kulit terganggu, berbagai masalah kulit akan lebih mudah muncul," katanya.
Selain memilih treatment yang tepat, masyarakat juga perlu memahami bahwa prosedur perawatan estetika umumnya memiliki masa pemulihan atau downtime. Reaksi seperti kemerahan ringan, bengkak, atau memar setelah tindakan injeksi masih tergolong normal dan biasanya akan membaik dalam beberapa hari.
"Yang perlu dipahami adalah perbedaan antara efek samping dan downtime. Pada prosedur injeksi, kemerahan atau sedikit bengkak merupakan respons yang wajar karena adanya tindakan pada kulit," jelasnya.
Seiring berkembangnya teknologi estetika, tren perawatan kini juga mengarah pada prosedur yang lebih nyaman dengan waktu pemulihan yang lebih singkat. Pasien umumnya menginginkan hasil optimal tanpa harus mengganggu aktivitas sehari-hari.
Editor : Arif Ardliyanto