Miris! 71 Persen Kekerasan Anak Terjadi di Rumah dan Sekolah
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, meminta para siswa untuk tidak takut melaporkan segala bentuk tindak kekerasan dan perundungan (bullying). Ia juga mengingatkan anak-anak agar tidak mudah merasa terintimidasi.
"Kepada anak-anakku, apabila mengetahui atau merasakan adanya kekerasan, jangan pernah ragu untuk menyampaikan kepada guru, orang tua, maupun pihak yang berwenang. Kekerasan ini meliputi apa saja, mulai dari kekerasan fisik, verbal, seksual, hingga kekerasan di ruang digital. Insyaallah, dengan keterlibatan orang dewasa, hal-hal seperti ini bisa diredam," ujarnya saat meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas Rana) di Satuan Pendidikan, Senin (13/7/2026).
Peluncuran Gernas Rana ini, lanjut Khofifah, merupakan langkah nyata untuk memperkuat ekosistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Sebab, satuan pendidikan bagi siswa bermakna lebih dari sekadar tempat belajar, melainkan juga ruang untuk mengembangkan potensi secara optimal.
"Anak-anak kita ini membawa masa depan dunia di tangan mereka. Merekalah yang nantinya akan memegang estafet kepemimpinan di berbagai lini. Maka, ruang aman bagi anak adalah tanggung jawab kita bersama. Mulai dari pemerintah, guru, orang tua, hingga masyarakat di semua sektor harus bergotong royong membangun lingkungan yang bebas dari kekerasan dan ramah terhadap anak," terangnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Pratikno, menegaskan bahwa pemerintah wajib menjamin ruang yang aman dan nyaman bagi anak, baik di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, maupun ruang digital.
"Maka, kami mengajak para orang tua, guru, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama menjamin ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Sebab, jika anak mengalami kekerasan, dampaknya akan sangat luar biasa bagi pertumbuhan mereka ke depan," tutur Pratikno.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, menjelaskan bahwa upaya perlindungan terhadap anak memiliki tantangan tersendiri. Berdasarkan data Simfoni PPA, sepanjang tahun 2025 telah terjadi 21.352 kasus kekerasan terhadap anak.
"Sebanyak 62,19 persen dari total korban adalah perempuan, dan 46,1 persen di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual. Mirisnya, 71 persen kekerasan tersebut justru terjadi di tempat yang seharusnya membuat anak merasa aman, yaitu di dalam rumah tangga dan satuan pendidikan. Jadi, ayo kita jaga bersama-sama, jangan ada lagi bullying di antara anak-anak kita," tegas Arifatul.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu'ti, menambahkan bahwa program ini sejalan dengan arahan langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto. Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui kebijakan sekolah yang aman dan nyaman, sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
"Ini adalah kreativitas luar biasa yang mendukung program-program pemerintah di sektor pendidikan dasar dan lainnya," pungkas Abdul Mu'ti.
Editor : Arif Ardliyanto