Kebakaran Bromo Meluas hingga 899 Hektare, Dua Titik Api Masih Aktif
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jatim, terus meluas. Hingga 11 Agustus 2026, area yang terdampak kebakaran tercatat mencapai sekitar 899,38 hektare.
Vegetasi yang terdampak meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.
Dua titik api masih menjadi fokus utama pemadaman. Tim gabungan melakukan penanganan dari darat di kawasan Pusung Duwur dan Dingklik menggunakan gepyok serta mobil tangki. Pembasahan dilakukan pada area yang dapat dijangkau petugas.
Selain penanganan darat, operasi pemadaman dari udara juga terus dilakukan. Tiga helikopter, yakni PK-DAN dan PK-DBM milik BNPB serta PK-DAP milik Pemprov Jatim, dikerahkan untuk melakukan water bombing di kawasan Pusung Duwur.
Hingga saat ini, operasi water bombing telah dilakukan sebanyak 15 rit dengan total sekitar 36.000 liter air yang dijatuhkan ke area terdampak.
Sekdaprov Jatim Adhy Karyono mengatakan pemerintah akan terus mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pemadaman. Ia optimistis penanganan kebakaran kali ini dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan kejadian serupa pada 2023. Perbedaannya dengan 2023 adalah helikopter standby di Pasuruan.
Pihaknya juga menambahkan helikopter satu dari Pemprov dan satu lagi sewa. Dua pesawat kecil standby dan review-nya ada di Ranu Pane.
“Sehingga tidak perlu menunggu habis empat atau lima rit,” kata Adhy saat mendampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meninjau lokasi penanganan karhutla Gunung Bromo, Selasa (11/8/2026).
Menurut Adhy, meluasnya kebakaran juga perlu diantisipasi karena berpotensi menimbulkan dampak lanjutan bagi masyarakat sekitar. Salah satunya terkait terganggunya jaringan air apabila pipa yang berada di kawasan terdampak ikut terbakar.
“BPBD Jatim pasti akan melakukan rehabilitasi, terutama untuk pipa air yang terbakar. Itu akan diganti semua. Kalau tidak, bencana besar akan terjadi karena masyarakat tidak mendapatkan air,” ujarnya.
Selain persoalan lingkungan dan kebutuhan dasar, kebakaran juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Bromo. Sektor pariwisata seperti jasa Jeep, hotel, homestay, dan usaha kuliner berpotensi ikut terdampak akibat kondisi kawasan yang terbakar dan terganggunya aktivitas wisata.
“Kita juga perlu memikirkan ekonomi sekitar yang jelas terganggu. Bagaimana usaha Jeep, hotel, homestay, dan kuliner terhenti. Untuk itu, mari kita efektifkan water bombing dan juga pasukan di darat untuk bisa menghasilkan dampak signifikan,” katanya.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno mengatakan pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat koordinasi untuk menangani dua titik api yang masih aktif.
“Kita ingin mengecek lagi kondisi terakhir. Ini memang masih ada dua titik api yang harus segera dipadamkan. Target waktunya secepat-cepatnya. Kita sudah bahas strategi dan cara yang paling efektif dan efisien,” ujar Pratikno.
Kepala BNPB Suharyanto menambahkan, penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api yang masih aktif, tetapi juga mencegah munculnya titik api baru.
BNPB juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca apabila kondisi awan mendukung. Berdasarkan informasi BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14–16 Agustus atau sekitar 18 Agustus 2026.
“Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai. Kalau potensi awan hujan benar-benar ada, nanti kita lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan tentu lebih efektif dan efisien,” pungkas Suharyanto.
Editor : Arif Ardliyanto