Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Masuk Kampus Bukan Cuma Cari Gelar, 391 Mahasiswa Baru UWP Diberi Tantangan Ini
Advertisement . Scroll to see content

Tak Lagi Andalkan Cara Manual, Produksi Peyek UMKM di Surabaya Melonjak 3 Kali Lipat, Ini Rahasianya

Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Tak Lagi Andalkan Cara Manual, Produksi Peyek UMKM di Surabaya Melonjak 3 Kali Lipat, Ini Rahasianya
Produksi peyek UMKM Surabaya melonjak dari 50 kg menjadi 150 kg per bulan setelah mendapat teknologi tepat guna dan pendampingan UWP. Foto iNewsSurabaya.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Teknologi tepat guna membawa perubahan besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) peyek dan bumbu pecel milik Sunarsih di Pondok Benowo Indah, Blok BO No. 8A, Surabaya.

Usaha yang sebelumnya mengandalkan proses produksi secara manual itu kini mampu meningkatkan kapasitas secara signifikan. Produksi peyek yang semula hanya sekitar 50 kilogram per bulan, kini melonjak hingga 150 kilogram per bulan.

Kenaikan serupa terjadi pada produk bumbu pecel. Dari sebelumnya sekitar 20 kilogram per bulan, produksinya kini mencapai 100-125 kilogram per bulan. Bahkan, penyaluran produk melalui jaringan mlijo tercatat sekitar 160 kilogram.


Produksi peyek UMKM Surabaya melonjak dari 50 kg menjadi 150 kg per bulan setelah mendapat teknologi tepat guna dan pendampingan UWP. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Peningkatan kapasitas produksi merupakan hasil penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) sekaligus pendampingan yang dilakukan tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Wijaya Putra (UWP). 

Program bertajuk “Enak Renyah Mantap: Penguatan Usaha Peyek dan Bumbu Pecel Kecamatan Pakal” tersebut mendapatkan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Teknologi diberikan secara bertahap selama Juli 2026. Tahap pertama dilakukan melalui penyerahan mesin giling bumbu pecel pada 4 Juli. Kemudian, mesin pencacah kacang tanah diberikan pada 8 Juli, disusul mesin sealer serta pelatihan pembukuan sederhana pada 11 Juli.

Penggunaan peralatan tersebut kemudian dipantau melalui monitoring dan evaluasi pada 20, 23, dan 28 Juli 2026 untuk memastikan teknologi yang diberikan benar-benar dimanfaatkan dalam proses produksi.

Sunarsih mengakui penggunaan mesin membuat proses produksi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

“Mesin yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan kami. Proses kerja jadi lebih cepat, produksi meningkat, dan kami juga dapat pelatihan pengemasan serta pembukuan. Sekarang pemasaran pun sudah mulai merambah Instagram dan Shopee,” ujar Sunarsih.

Pendampingan yang diberikan UWP tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi. Tim PKM juga membantu pelaku UMKM memperkuat pengemasan, pembukuan, identitas usaha hingga pemasaran digital.

Langkah tersebut membuat produk peyek dan bumbu pecel dari Pakal yang sebelumnya belum memanfaatkan platform daring kini mulai dipasarkan melalui Instagram dan Shopee.

Identitas usaha juga diperkuat dengan pemasangan banner di rumah produksi. Dengan begitu, keberadaan usaha tidak hanya semakin mudah dikenali di lingkungan sekitar, tetapi juga memiliki identitas yang lebih jelas ketika mulai memperluas pasar.

Ketua Tim PKM UWP Surabaya, Miskan, S.Sos., M.Si., mengatakan pemberian teknologi kepada UMKM harus berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

Menurutnya, bantuan alat saja tidak cukup untuk membuat sebuah usaha berkembang. Pelaku UMKM juga membutuhkan keterampilan, pengelolaan usaha dan akses pemasaran agar peningkatan produksi dapat diikuti dengan perluasan pasar.

“Teknologi kami berikan berdasarkan kebutuhan riil mitra. Kami tidak hanya mentransfer alat, tetapi juga keterampilan, manajemen, hingga akses pemasaran. Ini semua untuk memastikan usaha naik kelas dan berdaya saing,” jelas Miskan.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UWP mewujudkan visi sebagai Kampus Sociopreneur, dengan target menjadi universitas terkemuka dalam pengembangan sociopreneurship berbasis riset pada 2030.

Miskan menambahkan, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan riset di lingkungan akademik. Hasil riset dan inovasi juga diharapkan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kami ingin UWP dikenal tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga sebagai kampus yang impactful. Memberdayakan UMKM seperti Ibu Sunarsih adalah bagian dari misi kami untuk membangun ekosistem wirausaha sosial yang berbasis riset dan teknologi,” tambahnya.

Program pendampingan UMKM tersebut melibatkan dosen dari sejumlah bidang keilmuan. Miskan, S.Sos., M.Si., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bertindak sebagai ketua tim.

Sementara itu, anggota tim terdiri dari Krisnadhi Hariyanto, ST., MM., dosen Fakultas Teknik, serta Dr. Dewi Suprobowati, S.Sos., M.Si., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Pelaksanaan program juga mendapat dukungan dari mahasiswa, yakni Bagus Miftakhul Huda, Agnes Dwi Lestary, dan Shinta Afifah R.

Kolaborasi tersebut menggabungkan sejumlah aspek, mulai dari penerapan teknologi produksi, pelatihan pengemasan, pembukuan sederhana, pendampingan manajemen hingga pemasaran digital.

Hasilnya, UMKM peyek dan bumbu pecel milik Sunarsih kini memiliki kapasitas produksi yang lebih besar sekaligus mulai membuka akses pasar melalui platform digital.

Perubahan ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Teknologi yang sesuai kebutuhan, ditambah pendampingan yang berkelanjutan, dapat menjadi pemicu bagi usaha rumahan untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas pasar.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut