Musim Kemarau Bikin Pakan Kambing Menipis, Peternak Banyuwangi Temukan Solusi Tak Terduga
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi peternak kambing di Banyuwangi, terutama ketika ketersediaan pakan hijauan mulai berkurang. Kondisi itu mendorong Kelompok Ternak Kambing Mertosari di Desa Balak, Kecamatan Songgon, mencari cara agar kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi.
Selama ini, peternak mengandalkan ramban atau dedaunan hijau serta rumput sebagai pakan kambing. Namun, pemberian ramban secara langsung tanpa dicacah terlebih dahulu membuat sebagian pakan tidak termanfaatkan secara maksimal.
Ukuran daun dan batang yang terlalu panjang menyebabkan kambing tidak menghabiskan seluruh pakan. Sisa ramban kemudian menumpuk di sekitar kandang.
“Kami biasanya mengambil ramban kadang rumput, kemudian langsung diberikan kepada kambing. Kalau terlalu panjang, kadang tidak habis dimakan dan akhirnya menjadi sisa,” terang Ketua Kelompok Ternak Mertosari, Krisna Yo’an.
Persoalan tersebut semakin terasa ketika musim kemarau tiba. Pasokan ramban segar yang biasanya mudah diperoleh mulai berkurang sehingga peternak harus mencari alternatif untuk menjaga ketersediaan pakan.
Dari kebutuhan itulah Kelompok Ternak Mertosari kemudian mendapat pendampingan dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).
Pendampingan yang dilakukan tidak sebatas memberikan pengetahuan. Tim PKM Poliwangi yang terdiri atas Dr. Asmaul Khusna, Dwi Ahmad Priyadi, dan Anggra Fiveriati menyerahkan mesin pencacah ramban kepada Kelompok Ternak Mertosari pada 1 Juli 2026.
Mesin tersebut membuat proses pengolahan pakan menjadi lebih cepat dibandingkan pencacahan secara manual. Ramban dan rumput dapat dipotong menjadi bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah dikonsumsi kambing.
“Kami merasa terbantu dengan adanya mesin ini, pekerjaan mencacah ramban atau rumput menjadi lebih mudah dan cepat. Hasil cacahannya juga bisa kami manfaatkan untuk bahan membuat silase,” ungkap Krisna.
Peternak juga mendapat pendampingan untuk mengoperasikan mesin. Dengan praktik secara langsung, anggota kelompok tidak hanya menerima alat, tetapi memahami cara memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Belajar Membuat Cadangan Pakan
Pemanfaatan mesin pencacah kemudian dikembangkan untuk mendukung pembuatan silase. Pelatihan dan praktik pembuatan silase dilakukan pada 1 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, anggota kelompok terlibat sejak tahap persiapan bahan, pencacahan ramban, hingga proses pembuatan dan penyimpanan silase.
Teknik tersebut membuka pilihan baru bagi peternak untuk menyimpan bahan pakan. Ramban yang tersedia tidak harus seluruhnya diberikan kepada kambing pada hari yang sama, tetapi sebagian dapat diolah menjadi cadangan untuk digunakan saat hijauan segar sulit diperoleh.
“Dulu kami belum tahu bagaimana cara membuat cadangan pakan. Sekarang kami mulai belajar membuat silase. Harapannya, ketika rumput sulit didapat, kami masih punya persediaan pakan untuk kambing,” kata Krisna.
Untuk mengukur pemahaman peserta, kegiatan pendampingan juga dilengkapi pre-test dan post-test. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perkembangan pengetahuan anggota kelompok mengenai pengoperasian mesin pencacah serta teknik pembuatan silase.
Teknologi Disesuaikan dengan Kebutuhan Peternak
Ketua Tim PKM Poliwangi, Dr. Asmaul Khusna, mengatakan program pendampingan disusun berdasarkan persoalan yang dihadapi peternak secara langsung.
Menurutnya, teknologi yang diberikan tidak semestinya hanya menjadi bantuan alat. Peternak perlu memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan mengembangkan pemanfaatannya secara mandiri.
Anggota Tim PKM Poliwangi, Anggra Fiveriati, menambahkan, penggunaan mesin pencacah yang dipadukan dengan keterampilan membuat silase diharapkan dapat membuat pengelolaan pakan menjadi lebih efisien.
Sementara itu, Dwi Ahmad Priyadi menilai program tersebut memberikan cara pandang baru bagi peternak dalam memanfaatkan hijauan yang tersedia.
“Peternak mulai melihat bahwa ramban yang tersedia dapat diolah dan disimpan sehingga tidak seluruhnya harus langsung diberikan kepada ternak,” tutur Dwi.
Program PKM tersebut didanai melalui Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) pada skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Bagi Kelompok Ternak Mertosari, mesin pencacah dan pelatihan silase bukan sekadar tambahan peralatan. Keduanya menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian pakan, terutama ketika musim kemarau membuat ketersediaan hijauan segar tidak selalu mudah dipastikan.
Dengan adanya cadangan pakan, peternak berharap usaha kambing yang dijalankan dapat lebih efisien, produktif, dan tidak terlalu bergantung pada ketersediaan ramban dari hari ke hari.
Editor : Arif Ardliyanto