58 Pelajar Jatim Jadi Diplomat PBB, Diuji Negosiasi hingga Susun Resolusi PBB Mirip Aslinya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Bagaimana jika pelajar SMA harus berbicara layaknya diplomat dan memperjuangkan kepentingan sebuah negara dalam forum internasional? Pengalaman itu dirasakan 58 pelajar dari berbagai sekolah di Jawa Timur saat mengikuti Model United Nations (MUN) di Cita Hati Citraland Campus, Surabaya.
Bukan sekadar kompetisi adu argumen, kegiatan ini membawa peserta masuk ke dalam suasana simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka berperan sebagai delegasi negara tertentu dan dituntut memahami persoalan global sebelum menyampaikan sikap dalam persidangan.
Peserta yang hadir berasal dari sejumlah daerah, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto hingga Purwokerto. Latar belakang sekolah yang berbeda membuat forum tersebut menjadi ruang bertemunya beragam cara pandang.

Dalam persidangan, para peserta harus menjalankan peran layaknya seorang diplomat. Mereka mempelajari posisi negara yang diwakili, menyampaikan pandangan dalam debat formal, melakukan lobi, membangun komunikasi dengan delegasi lain hingga menyusun draft resolution atau rancangan resolusi.
Tantangannya pun berbeda dengan lomba debat pada umumnya. Peserta tidak cukup hanya membuat argumen paling kuat untuk mengalahkan lawan. Mereka justru harus mampu mencari titik temu agar gagasan yang dibawa dapat diterima delegasi lain.
Kemampuan mendengarkan, memahami kepentingan pihak berbeda, membangun koalisi dan merumuskan solusi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Secretary-General MUN sekaligus siswa Cita Hati Citraland Campus, Kezia Graciana Liem, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi pelajar untuk belajar bersama dengan siswa dari berbagai sekolah.
“Kami ingin MUN ini menjadi ruang bagi siswa untuk tidak hanya menunjukkan kemampuan berbicara dan berargumentasi, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki perspektif berbeda,” ujar Kezia.
Menurut Kezia, pembelajaran tidak hanya didapatkan peserta. Panitia juga memperoleh pengalaman dalam mengelola sebuah konferensi, mulai dari menyusun agenda hingga memastikan seluruh rangkaian persidangan berjalan sesuai rencana.
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris
English Teacher MYP Grade 7–9 sekaligus Supervisor Acara Cita Hati West Model United Nations, Yuditha Putri, M.Pd., melihat MUN sebagai metode pembelajaran yang membuat siswa berhadapan langsung dengan persoalan dan situasi yang menyerupai dunia nyata.
“Melalui MUN, siswa mendapatkan pengalaman untuk menggunakan kemampuan bahasa Inggris, berpikir kritis, berkomunikasi, bernegosiasi, sekaligus memahami isu-isu global. Mereka belajar bukan hanya dari materi yang diberikan guru, tetapi juga dari interaksi dan proses menemukan solusi bersama,” kata Yuditha.
Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk kemampuan yang tidak bisa diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas. Siswa harus berani menyampaikan pendapat sekaligus belajar menerima pandangan yang berbeda.
“Yang ingin kami bangun adalah keberanian siswa untuk menyampaikan gagasan, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menghargai pendapat yang berbeda. Dalam diplomasi, kita tidak bisa hanya berbicara. Kita juga harus mampu mendengarkan, memahami kepentingan pihak lain, kemudian mencari jalan tengah,” tuturnya.
Kepala Sekolah Cita Hati Citraland Campus, Robin Simon, menambahkan bahwa MUN memberikan pengalaman belajar yang berkaitan erat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
“Dalam MUN, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar mendengarkan sudut pandang yang berbeda, melakukan negosiasi, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama,” katanya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung melalui buku atau materi di ruang kelas. Ketika siswa diberi kesempatan menghadapi persoalan, berinteraksi dengan orang lain dan mencari solusi, kemampuan berpikir kritis serta komunikasi ikut terasah.
Pada akhirnya, Model United Nations di Surabaya bukan hanya menghadirkan simulasi sidang internasional. Forum tersebut mengajarkan satu hal penting kepada para pelajar: menyelesaikan masalah tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling keras atau paling kuat berargumentasi.
Terkadang, jalan keluar justru muncul ketika seseorang mau mendengarkan, memahami kepentingan pihak lain, berkompromi dan membangun kesepakatan.
Bagi 58 pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut, pengalaman menjadi “diplomat” sehari menjadi latihan menghadapi dunia yang semakin membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan menghargai perbedaan.
Editor: Arif Ardliyanto