Karateka Jatim Capai Ribuan, tapi Emas PON Seret: KONI Minta FORKI Putus Kutukan Prestasi
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Jawa Timur sebenarnya tidak pernah kekurangan karateka. Ribuan atlet tumbuh dari berbagai daerah, sementara kejuaraan karate hampir selalu hadir untuk menjaring talenta-talenta baru.
Namun, banyaknya karateka belum otomatis membuat prestasi karate Jawa Timur di ajang PON ikut melonjak.
Persoalan inilah yang kini menjadi tantangan besar bagi kepengurusan baru Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jawa Timur periode 2026-2030.
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, Dr. Muhammad Nabil, meminta FORKI Jatim melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan atlet. Ia berharap kepengurusan baru mampu memutus tren minimnya perolehan medali emas karate Jatim di panggung olahraga nasional.
Harapan itu disampaikan Nabil setelah menghadiri pelantikan pengurus FORKI Jatim periode 2026-2030 di Surabaya. Prosesi pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar FORKI, Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto.
Ribuan Atlet Belum Berbanding Lurus dengan Medali PON
Menurut Nabil, persoalan utama karate Jatim bukan berada pada jumlah atlet. Jawa Timur justru memiliki basis karateka yang sangat besar.
Masalahnya, potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi prestasi ketika memasuki kompetisi nasional.
Dalam empat penyelenggaraan PON terakhir, termasuk PON Aceh-Sumut 2024, perolehan emas karate Jawa Timur maksimal hanya dua medali. Padahal, terdapat 17 nomor pertandingan yang dapat menjadi ladang medali.
Catatan tersebut kembali terlihat pada PON Beladiri 2025. Kontingen karate Jatim hanya mengamankan satu medali emas dan satu perak.
“Relatif tidak sebanding dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan di setiap kejuaraan yang digelar di Jawa Timur,” kata Nabil.
Bagi KONI Jatim, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pembinaan karate tidak cukup hanya dengan memperbanyak kompetisi di tingkat daerah.
Yang harus dibangun adalah sistem yang mampu mengubah atlet potensial menjadi karateka yang siap menghadapi tekanan pertandingan tingkat nasional.
FORKI Jatim Diminta Perbanyak Jam Terbang
Nabil menilai salah satu hal yang harus diperkuat adalah pengalaman bertanding atlet.
Latihan rutin memang menjadi fondasi. Namun, kemampuan atlet akan benar-benar teruji ketika mereka berhadapan dengan lawan yang berbeda karakter, menghadapi tekanan penonton, serta dituntut mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Karena itu, FORKI Jatim diminta lebih aktif membawa atlet mengikuti berbagai kejuaraan di luar daerah.
“Harus sering mengadakan event. Harus rutin mengirim atlet ke kejuaraan nasional dan internasional, bukan hanya di level kejurda. Minimal empat kali setahun agar jam terbang bertanding atlet terukur,” tegasnya.
Menurut Nabil, agenda pertandingan tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana perkembangan atlet sekaligus mengukur kelemahan yang masih harus diperbaiki.
Dengan demikian, proses pembinaan tidak berhenti pada latihan, tetapi memiliki ukuran yang jelas berdasarkan hasil pertandingan.
Dukungan KONI Jatim Dinilai Sudah Maksimal
Nabil mengatakan KONI Jatim selama ini telah memberikan dukungan terhadap pembinaan atlet, baik melalui anggaran maupun fasilitas, terutama lewat program Pusat Latihan Daerah (Puslatda).
Karena itu, ia berharap dukungan tersebut diikuti dengan pembenahan pola pembinaan di masing-masing cabang olahraga.
FORKI Jatim dituntut berani mengevaluasi metode lama dan menyusun pola pembinaan yang lebih kompetitif. Salah satunya dengan membangun ekosistem pembinaan sejak usia dini hingga tingkat senior.
Pembinaan juga diharapkan tidak hanya mengandalkan kemampuan teknik. Pendekatan sport science perlu diperkuat agar perkembangan fisik, teknik, mental, hingga performa atlet dapat dipantau secara lebih terukur.
Stigma Cabang Combat Harus Dipatahkan
Selain menyoroti prestasi, Nabil juga menyinggung anggapan bahwa cabang olahraga combat, termasuk karate, kurang menjanjikan bagi Jawa Timur dalam mendulang medali.
Menurut dia, anggapan tersebut justru harus dijawab dengan prestasi.
“Jika hanya dapat dua emas dari 17 nomor, itu tidak mencerminkan potensi besar Jatim. Saya yakin, dengan kerja keras dan program tepat, FORKI Jatim bisa bangkit,” ujarnya.
FORKI Jatim kini memiliki pekerjaan besar untuk membangun sistem pembinaan yang mampu menghasilkan atlet berprestasi secara berkelanjutan.
Kepengurusan periode 2026-2030 juga tengah menyiapkan roadmap pembinaan empat tahun. Sejumlah strategi yang disiapkan mencakup pemusatan latihan terpadu, kolaborasi dengan pelatih nasional, peningkatan fasilitas, hingga agenda sparing antardaerah.
Jika program tersebut berjalan konsisten, pergantian kepengurusan FORKI Jatim tidak sekadar menjadi perubahan struktur organisasi.
Momentum ini bisa menjadi titik awal untuk mengubah perjalanan karate Jawa Timur di pentas nasional.
Sebab, tantangan FORKI Jatim kini bukan lagi membuktikan bahwa Jawa Timur memiliki ribuan karateka.
Pekerjaan yang jauh lebih besar adalah membuktikan bahwa dari ribuan talenta tersebut, lahir atlet yang mampu membawa pulang emas ketika panggung PON tiba.
Editor : Arif Ardliyanto