get app
inews
Aa Text
Read Next : Serunya Nonton Wayang Kulit di Kampus Merah Putih, Mahasiswa Hingga Warga Turut Memeriahkan

Tak Mau Wayang Kulit Hilang Ditelan Zaman, Kampus Merah Putih Gelar Pertunjukan Spektakuler

Senin, 31 Agustus 2026 | 16:34 WIB
header img
Untag Surabaya menggelar pagelaran wayang kulit lakon Wahyu Katentreman sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus berbagi kebahagiaan bersama ribuan masyarakat. Foto iNewsSurabaya.id/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah derasnya arus media sosial dan hiburan digital, pertunjukan wayang kulit menghadapi tantangan untuk tetap dekat dengan generasi masa kini. Tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa itu pun membutuhkan ruang agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui pagelaran wayang kulit yang digelar di Pelataran Gedung Fakultas Kedokteran Untag Surabaya.

Bukan sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menjaga keberadaan kesenian tradisional sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat.


Untag Surabaya menggelar pagelaran wayang kulit lakon Wahyu Katentreman sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus berbagi kebahagiaan bersama ribuan masyarakat. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Ribuan warga turut memadati lokasi pagelaran. Mereka berbaur dengan jajaran pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, pimpinan universitas, serta sivitas akademika Untag Surabaya.

Pagelaran mengangkat lakon Wahyu Katentreman yang dibawakan oleh dua dalang, yakni Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Kusuma Wibathsuh.

Suasana pertunjukan semakin meriah dengan kehadiran Cak Percil Cs serta penampilan kelompok karawitan Sekar Gadung Indonesia. Perpaduan wayang, karawitan, dan hiburan tersebut membuat pertunjukan berlangsung semarak hingga menarik perhatian masyarakat.

Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan pemilihan lakon Wahyu Katentreman bukan tanpa alasan. Lakon tersebut dinilai memiliki pesan yang relevan dengan harapan terhadap kehidupan di lingkungan YPTA Surabaya.

“Kami memilih lakon ini karena berharap semoga katentreman selalu hadir di lingkungan YPTA. Kami ingin melestarikan kebudayaan dan bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan masyarakat,” ujar Harjo.

Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menjaga kesenian tradisional agar tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya J. Subekti, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur universitas yang selama ini turut bekerja keras mengembangkan Untag Surabaya.

“Saya pribadi berterima kasih atas kerja sama dan kerja keras seluruh bagian dari universitas. Tetes keringat kalianlah yang melaksanakan tanggung jawab pekerjaan sebaik-baiknya. Mari terus membangun Untag sebaik-baiknya selamanya,” tuturnya.

Wayang Kulit Jadi Ruang Kebersamaan

Pagelaran tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Untag Surabaya juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk mengikuti kupon undian berhadiah.

Beragam hadiah disiapkan dengan total nilai mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu hadiah yang paling menarik perhatian masyarakat adalah satu unit sepeda motor sebagai hadiah utama.

Antusiasme penonton pun semakin tinggi. Warga tidak hanya menikmati alur cerita wayang dan pertunjukan karawitan, tetapi juga bertahan mengikuti rangkaian acara hingga pengundian hadiah selesai.

Bagi sejumlah warga, kegiatan semacam ini menjadi kesempatan untuk menikmati kembali kesenian tradisional sekaligus merasakan suasana kebersamaan bersama masyarakat lainnya.

Yanti, salah satu penonton asal Semolowaru, menjadi salah satu warga yang membawa pulang hadiah dari acara tersebut. Ia mendapatkan dispenser melalui undian.

“Semoga di ulang tahun Untag Surabaya ini semakin jaya, dan rutin mengadakan pagelaran untuk masyarakat seperti ini,” ungkap Yanti.

Sementara itu, kebahagiaan lebih besar dirasakan Zakaria, warga Manyar, setelah namanya keluar sebagai penerima hadiah utama berupa satu unit sepeda motor lengkap dengan helm.

“Saya sangat bersyukur dan senang sekali mendapatkan hadiah utama sepeda motor beserta helm. Semoga Untag Surabaya semakin maju dan semakin banyak mahasiswanya. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat,” ujar Zakaria.

Pagelaran wayang kulit tersebut bukan kegiatan yang baru dilakukan Untag Surabaya. Pertunjukan serupa telah menjadi agenda yang rutin digelar setiap tahun.

Konsistensi itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai ruang, termasuk lingkungan perguruan tinggi. Wayang kulit tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihadirkan sebagai hiburan dan ruang pertemuan antara kampus dengan masyarakat.

Di tengah perubahan pola hiburan masyarakat akibat perkembangan teknologi, keberadaan pagelaran seperti ini menjadi salah satu cara untuk memastikan kesenian tradisional tetap memiliki panggung.

Melalui lakon Wahyu Katentreman, Untag Surabaya tidak hanya mengajak masyarakat menikmati seni pertunjukan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan, ketenteraman, dan keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut