Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ancaman Salmonella Makin Nyata, Peneliti UM Temukan Teknologi Canggih Bisa Deteksi Bakteri Cepat
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Modal Besar, UMKM Kediri Ini Produksinya Naik 37 Persen Berkat Teknologi Tepat Guna

Rabu, 09 September 2026 | 05:11 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Bukan Modal Besar, UMKM Kediri Ini Produksinya Naik 37 Persen Berkat Teknologi Tepat Guna
UMKM di Desa Cerme, Kediri, berhasil meningkatkan produksi hingga 37,1 persen setelah mendapat pendampingan teknologi tepat guna dari Universitas Negeri Malang. Foto iNewsSurabaya.id/ist

KEDIRI, iNewsSurabaya.id – Dapur produksi ternyata bisa menjadi titik awal perubahan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal itu dibuktikan dua UMKM di Desa Cerme, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi setelah menerapkan teknologi tepat guna.

Dua usaha tersebut yakni UMKM Kerupuk Sermier dan Keripik Tempe Sagu. Keduanya mendapat pendampingan dari Universitas Negeri Malang (UM) untuk membenahi proses produksi, meningkatkan kualitas, memperkuat pengelolaan usaha, hingga memperluas pemasaran.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat tahun kedua 2026 bertajuk “Optimalisasi Dapur Usaha UMKM Berbasis Olahan Ubi Kayu sebagai Produk Unggulan Kabupaten Kediri untuk Meningkatkan Produktivitas, Branding, dan Pendapatan Usaha.”

Program tersebut diketuai Dr. Dani Irawan, M.Pd., dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, bersama Primasa Minerva Nagari, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Dr. M. Anas Thohir, M.Pd., dan Wulan Trisnawaty, S.Pd., M.Pd.


UMKM di Desa Cerme, Kediri, berhasil meningkatkan produksi hingga 37,1 persen setelah mendapat pendampingan teknologi tepat guna dari Universitas Negeri Malang. Foto iNewsSurabaya.id/ist

Pelaksanaan program mendapat dukungan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri. Pendampingan tidak sebatas memberikan peralatan produksi, tetapi juga membekali pelaku UMKM agar mampu mengoperasikan, merawat, dan memanfaatkan teknologi secara mandiri.

“Di UMKM Kerupuk Sermier, tim UM menerapkan sejumlah peralatan, antara lain mesin parut ketela, single deep fryer, mixer bumbu, dan multi tray dryer,” kata Dr. Dani Irawan, M.Pd.

Sementara untuk UMKM Keripik Tempe Sagu, teknologi yang diterapkan meliputi double deep fryer, mixer pengaduk bumbu, spinner peniris minyak, serta multi tray dryer.

Setiap peralatan tidak langsung digunakan begitu saja. Tim melakukan instalasi, uji coba, pelatihan pengoperasian, hingga pendampingan kepada mitra. Pemilik usaha juga mendapatkan pemahaman mengenai perawatan peralatan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.

Hasil penerapan teknologi mulai terlihat dalam proses produksi. Berdasarkan monitoring yang dilakukan pada Mei hingga Juli 2026, kapasitas produksi Kerupuk Sermier meningkat dari 45 kilogram menjadi 58 kilogram per hari.

Artinya, terjadi peningkatan produksi sekitar 28,9 persen.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada UMKM Keripik Tempe Sagu. Kapasitas produksinya meningkat dari 35 kilogram menjadi 48 kilogram per hari, atau bertambah sekitar 37,1 persen.

“Pada Keripik Tempe Sagu, kapasitas produksi meningkat lebih tinggi, dari 35 kilogram menjadi 48 kilogram per hari atau bertambah 37,1 persen,” ujar Dani.

Peningkatan produksi tersebut juga diikuti efisiensi waktu kerja. Proses produksi Kerupuk Sermier menjadi 19,4 persen lebih efisien, sedangkan Keripik Tempe Sagu mencapai 27,1 persen.

Menariknya, peningkatan jumlah produksi tidak membuat kualitas produk diabaikan. Tingkat produk cacat justru berhasil ditekan menjadi 2,8 persen pada Kerupuk Sermier dan 2,7 persen pada Keripik Tempe Sagu.

“Yang tidak kalah penting, peningkatan produktivitas tidak membuat kualitas produk terabaikan. Tingkat cacat produk berhasil ditekan menjadi 2,8 persen pada Kerupuk Sermier dan 2,7 persen pada Keripik Tempe Sagu,” jelasnya.

Dampak pendampingan juga terlihat dari tata kelola usaha. Kedua UMKM kini telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) produksi hingga 100 persen.

Kemampuan pelaku usaha dalam menghitung harga pokok produksi (HPP) dan margin juga mencapai 100 persen. Selain itu, seluruh mitra telah menerapkan pencatatan keuangan secara digital.

Sementara kemampuan menghitung break-even point (BEP) telah mencapai 90 persen.

Perubahan tersebut kemudian berdampak terhadap pendapatan usaha.

Omzet UMKM Kerupuk Sermier mencapai sekitar Rp14,52 juta per bulan, atau meningkat 21 persen. Sementara omzet Keripik Tempe Sagu berada di angka Rp14,4 juta per bulan, naik 20 persen.

Dari angka tersebut, laba bersih yang diperoleh masing-masing pelaku usaha berada di kisaran Rp4 juta per bulan.

“Kerupuk Sermier mencatat laba bersih sekitar Rp4,35 juta per bulan, sedangkan Keripik Tempe Sagu sekitar Rp4,20 juta per bulan,” ungkap Dani.

Pemasaran Tak Lagi Bergantung pada Pasar Sekitar

Perubahan UMKM di Desa Cerme itu tidak berhenti pada peningkatan produksi. Tim Universitas Negeri Malang juga mendorong pelaku usaha memperluas pemasaran melalui berbagai saluran.

Produk mulai diperkenalkan melalui reseller, jaringan distribusi, marketplace, dan media sosial. Strategi tersebut membuat jangkauan pasar kedua UMKM ikut meningkat.

Jangkauan pasar Kerupuk Sermier meningkat dari 40 persen menjadi 65 persen. Sedangkan Keripik Tempe Sagu mencapai 62 persen.

Masing-masing UMKM kini memiliki tiga reseller aktif, tiga mitra distribusi, dua marketplace, serta dua media sosial yang dimanfaatkan untuk mendukung penjualan.

Penjualan melalui kanal digital juga mulai memberikan kontribusi yang cukup besar. Kanal digital menyumbang sekitar 27 persen penjualan Kerupuk Sermier dan 26 persen penjualan Keripik Tempe Sagu.

Menurut Dani, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan berupa mesin atau peralatan.

“Dukungan pendanaan tahun kedua memungkinkan proses transfer teknologi, pendampingan, dan penguatan kapasitas UMKM dilakukan secara lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari penguatan UMKM. Agar usaha dapat berkembang dalam jangka panjang, pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan mengelola produksi, keuangan, kualitas produk, hingga pemasaran.

Karena itu, pendampingan berikutnya akan diarahkan pada penguatan manajemen stok dan mutu berbasis digital, pengembangan brand storytelling, penyempurnaan kemasan untuk memasuki pasar ritel modern, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan pemasaran melalui marketplace nasional.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Selain itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 2 dan IKU 5 perguruan tinggi.

Keberhasilan dua UMKM di Desa Cerme menunjukkan bahwa transformasi usaha tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Pembenahan dapur produksi, pemanfaatan teknologi yang sesuai kebutuhan, peningkatan keterampilan, serta pengelolaan bisnis yang lebih tertata dapat membuka peluang pertumbuhan.

Dari dapur produksi sederhana di Kabupaten Kediri, Kerupuk Sermier dan Keripik Tempe Sagu kini memiliki kapasitas lebih besar dan akses pasar yang semakin luas. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan agar peningkatan usaha tersebut bisa berlangsung dalam jangka panjang.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut