Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kronologi Chat WhatsApp Tak Etis di Unesa, Berawal dari Laporan hingga 6 Mahasiswa Dinonaktifkan
Advertisement . Scroll to see content

Tak Sekadar Website, Gadisku Buka Jalan Penyandang Disabilitas Tembus Dunia Kerja

Sabtu, 19 September 2026 | 16:30 WIB
  • author Hendro Djatmiko
Tak Sekadar Website, Gadisku Buka Jalan Penyandang Disabilitas Tembus Dunia Kerja
Transformasi digital Gadisku didorong Unesa untuk memperluas akses penyandang disabilitas ke dunia kerja, industri, dan masyarakat melalui website serta konten inklusif. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Dunia digital kini tidak hanya menjadi ruang untuk menyebarkan informasi. Bagi organisasi pemberdayaan penyandang disabilitas, kehadiran digital juga dapat membuka jalan menuju dunia kerja, memperluas jejaring, hingga mempertemukan potensi penyandang disabilitas dengan kebutuhan industri.

Hal inilah yang mulai dibangun melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bertajuk “Transformasi Digital Galeri Disabilitas dan UPT Jawa Timur (GADISKU) melalui Pengembangan Website dan Pelatihan Penulisan Konten.”

Kegiatan yang digelar di Ruang Media Center, Gedung Rektorat Unesa tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kehadiran digital Galeri Disabilitas dan UPT Jawa Timur (Gadisku).

Tidak sekadar membangun sebuah website, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengelola dalam membuat konten dan menyampaikan berbagai cerita pemberdayaan penyandang disabilitas kepada masyarakat.

Kegiatan itu dihadiri pengelola Program Gadisku, Direktur Rumah Kinasih Edi Cahyono, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Eka Prastama Widiyanta, perwakilan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, serta tim PKM Unesa.

Edi Cahyono menjelaskan, Gadisku dibentuk sebagai ruang pendampingan bagi penyandang disabilitas non-UPT. Pendampingan dilakukan untuk membantu mereka melanjutkan proses rehabilitasi hingga memiliki kemandirian, baik dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Sejak berdiri pada 2024, berbagai program telah dikembangkan Gadisku. Di antaranya kewirausahaan inklusif serta fasilitasi penyandang disabilitas yang ingin memasuki dunia kerja formal.

Namun, keberadaan program dan potensi tersebut dinilai belum cukup jika tidak diikuti dengan kemampuan memperkenalkannya kepada publik.

Menurut Edi, kebutuhan terhadap tenaga kerja penyandang disabilitas membuat perusahaan mulai mencari informasi melalui internet. Kondisi ini kemudian memperlihatkan pentingnya keberadaan digital bagi Gadisku.

“Pengalaman kami dengan pihak mitra menunjukkan bahwa perusahaan mencari tenaga kerja disabilitas melalui pencarian di internet hingga menemukan Gadisku,” jelas Edi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa website dan konten digital dapat berfungsi lebih dari sekadar media publikasi. Ruang digital dapat menjadi pintu masuk bagi perusahaan untuk mengenali kompetensi penyandang disabilitas sekaligus menemukan mitra dalam proses perekrutan tenaga kerja.

Karena itu, Edi menilai portofolio alumni, karya, serta berbagai program Gadisku perlu dikemas dengan lebih baik. Informasi tersebut penting agar calon mitra maupun masyarakat dapat melihat kemampuan dan kontribusi penyandang disabilitas secara lebih lengkap.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Eka Prastama Widiyanta turut menyoroti pentingnya transformasi digital dalam membangun ekosistem pemberdayaan penyandang disabilitas.

Menurutnya, digitalisasi dapat memperluas akses informasi dan pasar. Pada saat yang sama, ruang digital juga memungkinkan organisasi pemberdayaan membangun jejaring dengan calon mitra dan menyampaikan informasi mengenai program secara lebih inklusif.

Meski demikian, Eka mengingatkan pentingnya cara menyampaikan cerita tentang penyandang disabilitas.

Menurutnya, narasi mengenai disabilitas seharusnya tidak hanya menampilkan sisi keterbatasan. Penyandang disabilitas perlu ditempatkan sebagai pihak yang memiliki peran aktif dalam berbagai program.

“Penyandang disabilitas tidak boleh sekadar dijadikan objek program, melainkan subjek dan aktor aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program agar dampaknya nyata bagi individu, keluarga, dan masyarakat,” jelas Eka.

Karena itu, komunikasi publik perlu menggunakan perspektif berbasis hak dan pemberdayaan. Konten yang dibuat diharapkan mampu menunjukkan produktivitas, kompetensi, kemandirian, serta kontribusi penyandang disabilitas.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai penyandang disabilitas, tidak hanya berdasarkan keterbatasan, tetapi juga kemampuan, karya, dan pengalaman yang dimiliki.

Ketua Tim PKM Unesa Puspita Sari Sukardani mengatakan, pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada pembangunan website.

Tim juga memberikan penguatan mengenai strategi komunikasi publik dan storytelling agar pengalaman pemberdayaan penyandang disabilitas dapat disampaikan dengan cara yang lebih tepat.

“Unesa memfokuskan pendampingan pada pengembangan website, branding naratif, serta penyusunan strategi komunikasi publik tanpa menjual rasa kasihan,” ungkap pakar komunikasi krisis dari Unesa tersebut.

Menurutnya, pendekatan komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun persepsi publik. Cerita mengenai penyandang disabilitas dapat diangkat melalui pengalaman, karya, prestasi, serta perubahan yang terjadi setelah mengikuti program pemberdayaan.

Sementara itu, anggota Tim PKM Unesa sekaligus Direktur Humas, Informasi Publik, dan Protokoler Unesa, Vinda Maya Setianingrum, menilai Gadisku sebenarnya telah memiliki modal berupa program dan karya pemberdayaan.

Tantangan berikutnya adalah membawa berbagai pengalaman tersebut ke ruang digital agar dapat ditemukan masyarakat yang lebih luas, termasuk dunia industri dan calon mitra dari berbagai daerah.

“Secara existing, karya dan pemberdayaan Gadisku sudah luar biasa. Kami bertugas mengangkat branding tersebut agar menyentuh hati masyarakat luas,” katanya.

Pendampingan PKM Unesa akan berlangsung hingga akhir tahun. Sejumlah program disiapkan, mulai dari pembangunan website resmi, pengelolaan media sosial secara berkelanjutan, pengembangan konten berbasis dampak, hingga penguatan jurnalistik disabilitas.

Transformasi digital tersebut diharapkan membuat Gadisku memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan program sekaligus menampilkan karya dan kompetensi penyandang disabilitas.

Dengan demikian, website dan kanal digital tidak hanya berfungsi sebagai etalase informasi. Kehadiran digital Gadisku juga diarahkan menjadi salah satu penghubung antara penyandang disabilitas, masyarakat, lembaga pemberdayaan, dan dunia industri.

Upaya tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa pemberdayaan disabilitas tidak berhenti pada pemberian bantuan. Ada proses membangun kemampuan, membuka akses, serta menciptakan kesempatan agar penyandang disabilitas dapat berperan lebih luas di tengah masyarakat.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut