Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kehamilan Ajaib di Usia 46 Tahun, Perempuan Asal Magelang Lahirkan Bayi Kembar Identik
Advertisement . Scroll to see content

Karier Dikejar, Kehamilan Tertunda: Fenomena Baru yang Bikin Angka Kelahiran di Surabaya Menurun

Senin, 21 September 2026 | 09:24 WIB
  • author Rahmat Ilyasan
Karier Dikejar, Kehamilan Tertunda: Fenomena Baru yang Bikin Angka Kelahiran di Surabaya Menurun
Angka kelahiran Surabaya disebut turun menjadi 1,7. Dokter mengungkap faktor usia menikah, gaya hidup, karier, dan kondisi sosial ekonomi. Foto iNewsSurabaya.id/ilyas

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Rencana membangun karier dan kondisi ekonomi membuat sebagian pasangan di perkotaan memilih menunda memiliki anak. Fenomena ini ikut menjadi perhatian karena angka kelahiran di sejumlah kota besar, termasuk Surabaya, menunjukkan tren penurunan.

Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total di Surabaya disebut telah berada di kisaran 1,7, lebih rendah dibanding angka nasional yang berada sekitar 2,1.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Morula IVF Surabaya, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.O.G(K), FICS, FIICOG, FESICOG, mengatakan perubahan pola kehidupan masyarakat perkotaan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang berkaitan dengan penurunan tingkat kesuburan masyarakat urban. Salah satunya adalah perubahan usia pernikahan.

"Pertama dari faktor medis, di mana terjadi pergeseran usia pernikahan yang semakin mundur. Dulu orang menikah di usia 20 tahun, sekarang rata-rata 27 hingga 30 tahun ke atas. Padahal, faktor usia sangat menentukan kualitas fertilitas," ujar dr. Benediktus saat seminar edukasi Future Family Planning: Balancing Career & Parenthood di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Minggu (20/9/2026).

Ia menjelaskan, persoalan fertilitas juga tidak hanya berkaitan dengan perempuan. Kondisi reproduksi laki-laki turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasangan ketika merencanakan kehamilan.

Faktor lainnya adalah perubahan kondisi sosial ekonomi dan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kesibukan bekerja, target karier hingga pertimbangan biaya membesarkan anak membuat sebagian pasangan berpikir lebih panjang sebelum memiliki buah hati.

"Sekarang masyarakat berpikir ulang untuk memiliki banyak anak. Selain itu, banyak pasangan yang sibuk mengejar karir dan merencanakan pekerjaan hingga 10 tahun ke depan, namun lupa merencanakan kehamilan sejak awal pernikahan," jelasnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut