Hadapi Kekeringan, Khofifah Minta Masjid di Jatim Gelar Salat Istisqa Usai Salat Jumat
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jatim mengimbau masjid di Jatim melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah meluasnya kekeringan dan krisis air bersih.
Khofifah meminta Salat Istisqa dilaksanakan setelah Salat Jumat pada pekan depan. Ajakan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang dilakukan Pemprov Jatim di tengah berbagai upaya teknis menghadapi kekeringan.
“Jumat depan di masjid-masjid setelah Salat Jumat dilaksanakan Salat Istisqa, salat mohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” kata Khofifah saat meninjau penyaluran bantuan air bersih di Kabupaten Ponorogo, Senin (21/9/2026).
Menurut Khofifah, penanganan kekeringan membutuhkan berbagai bentuk ikhtiar, baik melalui pendekatan saintifik maupun spiritual. Pemerintah terus melakukan sejumlah langkah teknis, mulai dari dropping air bersih, pencarian sumber air, pengeboran sumur hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Kita melakukan sangat banyak ikhtiar sejak tanggal 3 September lalu. Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” ujarnya.
Pemprov Jatim telah melakukan OMC sejak 3 September 2026. Selain itu, pemerintah juga memetakan sumber mata air yang berpotensi dialirkan ke wilayah terdampak melalui pipanisasi.
Khofifah mencontohkan upaya pipanisasi yang telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Singosari, Kabupaten Malang. Di kawasan tersebut, air dari sumber di sekitar Gunung Arjuno ditarik melalui jaringan pipa hingga sejauh 15 kilometer, bahkan di titik lain mencapai 17 kilometer.
Namun, pembangunan jaringan pipanisasi menghadapi tantangan tersendiri. Salah satunya kekhawatiran masyarakat di sekitar sumber air apabila pasokan air mereka ikut berkurang setelah dialirkan ke wilayah lain.
Selain mencari sumber air dan membangun jaringan pipanisasi, pengeboran sumur juga menjadi salah satu pilihan. Khofifah menyebut kondisi bawah tanah di setiap daerah berbeda sehingga kedalaman pengeboran untuk mendapatkan sumber air tidak selalu sama.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” katanya.
Sementara itu, kekeringan saat ini telah berdampak pada sejumlah wilayah Jatim. Hingga 19 September 2026, tercatat 24 wilayah di Jatim telah mengeluarkan status darurat kekeringan.
Di Kabupaten Ponorogo, kekeringan melanda lima kecamatan dengan dampak terhadap 241 keluarga atau 612 jiwa. Kecamatan Pulung menjadi salah satu wilayah terdampak dengan 56 keluarga atau 189 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemprov Jatim menyalurkan 15.000 liter air bersih ke Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung. Bantuan tersebut dikirim menggunakan tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Khofifah menegaskan penanganan kekeringan membutuhkan gotong royong seluruh pihak. Pemerintah, masyarakat dan berbagai elemen lainnya diharapkan bersama-sama menjaga sumber air sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang.
“Kita ikhtiarkan secara saintifik, kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat. Secara spiritual kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” tuturnya.
Editor: Arif Ardliyanto