Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ukur Dampak Pelatihan Siswa Vokasi, Dindik Jatim Siapkan Tracer Study
Advertisement . Scroll to see content

Kontingen Jatim Sumbang Tiga Penghargaan untuk Indonesia di WSC Shanghai 2026

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 10:16 WIB
  • author Saipul Yudi
Kontingen Jatim Sumbang Tiga Penghargaan untuk Indonesia di WSC Shanghai 2026
Talenta vokasi Jatim meraih tiga penghargaan WorldSkills Shanghai. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Kontingen Jawa Timur (Jatim) menyumbang tiga dari sembilan penghargaan yang dibawa pulang Indonesia dari ajang WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026. 

Capaian tersebut terdiri atas satu medali perak dan dua Medallion for Excellence, sekaligus menegaskan kontribusi talenta vokasi Jatim di panggung keterampilan dunia.

Medali perak diraih Edsel Parama Mustapa, alumni SMKS PGRI 3 Malang yang kini menempuh pendidikan di Poltek Astra, pada bidang Software Applications Development. Sementara dua Medallion for Excellence diraih Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, alumni SMKN 1 Jenangan, pada bidang Mechatronics beregu.

Secara keseluruhan, Indonesia meraih sembilan penghargaan dalam kompetisi tersebut, terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence.

Dua medali perunggu lainnya diraih Rash Asyari Amyris Thalib pada bidang IT Network Systems Administration dan Fatima Rani Al Husna Prameswara pada bidang Restaurant Service. 

Sementara enam Medallion for Excellence lainnya diperoleh dari bidang Web Technologies, Industrial Control, Electronics, Mechatronics, Refrigeration and Air Conditioning, serta Automobile Technology.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Aries Agung Paewai mengapresiasi capaian para kompetitor dan expert Indonesia, khususnya tujuh perwakilan Jatim yang berlaga di WSC Shanghai 2026.

“Alhamdulillah, perwakilan Jatim dari tujuh orang, tiga di antaranya membawa pulang medali, yakni satu Silver Medal dan dua Medallion for Excellence,” ujar Aries, Jumat (2/10/2026).

Menurut Aries, capaian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan vokasi, bukan hanya dari sisi kompetitor, tetapi juga sistem pembinaan yang menopang persiapan menuju kompetisi tingkat dunia.

WorldSkills, kata dia, mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai negara dengan standar profesi dan industri internasional. Karena itu, kurikulum, metode pelatihan, peralatan, hingga lingkungan training harus semakin mendekati standar negara-negara yang menjadi benchmark.

“Expert perannya juga sama pentingnya dengan kompetitor. Seberapa dekat kompetensi expert, trainer, peralatan, metode latihan, dan lingkungan training Indonesia dengan negara-negara yang menjadi benchmark,” katanya.

Aries mendorong evaluasi pasca-WorldSkills dilakukan secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya menyangkut kemampuan teknis peserta, tetapi juga pemahaman terhadap standar WorldSkills, sistem kompetisi, kemampuan membaca tren soal, jejaring internasional, hingga transfer pengetahuan kepada trainer di daerah.

Penguatan training center juga menjadi perhatian. Aries berharap pemerintah dapat mengintensifkan pusat pelatihan bagi calon kontingen agar persiapan peserta dilakukan lebih panjang, terukur, dan sesuai kebutuhan kompetisi internasional.

Selain itu, keterlibatan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) dinilai menjadi bagian penting dalam pembinaan talenta vokasi.

“WorldSkills ini ajang yang sangat bergengsi. Ini kesempatan bagi peserta menunjukkan kompetensi vokasi. Banyak mata DUDIKA dunia tertuju di sini,” ujarnya.

Pada WSC Shanghai 2026, Indonesia mengirimkan 20 kompetitor pada 17 bidang lomba yang didampingi 17 expert dan technical delegate. Jumlah tersebut menjadi delegasi terbesar Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan dalam WorldSkills.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyebut jumlah bidang yang meraih prestasi internasional meningkat dari sebelumnya empat menjadi sembilan bidang. 

Para kompetitor menjalani latihan intensif sekitar lima hingga enam bulan sebelum bertanding di Shanghai. Salah satu peraih penghargaan, Edsel Parama Mustapa, menjalani pelatihan selama enam bulan untuk bidang Software Applications Development. 

Selama persiapan, ia mengerjakan soal-soal baru setiap hari untuk meningkatkan kemampuan menghadapi tantangan kompetisi. “Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi alhamdulillah saya bisa dapat,” ungkap Edsel.

Dalam kompetisi, Edsel mengerjakan pengembangan aplikasi mulai dari perencanaan, pembuatan hingga pengujian.  Aplikasi tersebut ditujukan untuk perangkat Android dan dapat diterapkan dalam kebutuhan dunia usaha dan industri.

Sementara itu, Fatima Rani Al Husna Prameswara menjalani persiapan lebih panjang sebelum meraih medali perunggu pada bidang Restaurant Service. 

Perjalanannya dimulai dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS), kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah dan nasional, hingga masuk training center WSC Shanghai 2026.

Pengalaman langsung di industri juga menjadi bagian dari persiapan Fatima. Ia beberapa kali menjalani latihan di lingkungan industri untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan tamu dan profesional di bidang restaurant service.

“Saya selalu berprinsip bahwa saya ingin memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mungkin ini bonus yang saya dapatkan,” ujarnya.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut