Pernah Jadi Korban Bullying, Remaja Surabaya Bangkit Lewat Karate Kyokushinkai
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suara hentakan kaki dan pukulan terdengar bergemuruh dari arena latihan. Tubuh para karateka bergerak dinamis mengikuti aba-aba sensei atau guru. Latihan berlangsung intens, menguras tenaga, dan menuntut konsentrasi tinggi.
Namun, latihan karate aliran Kyokushinkai bukan semata-mata untuk mengasah kemampuan bertarung. Di balik metode full body contact yang menjadi ciri khasnya, terdapat misi pembinaan mental, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, serta pembentukan karakter.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi Pembinaan Mental Karate (PMK) Kyokushinkai Karate-Do Indonesia dalam membina karateka, termasuk di Surabaya. Sejumlah dojo menjadi tempat pembinaan atlet sekaligus regenerasi, di antaranya Dojo Graha Family dan pusat latihan di GOR Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Salah satu instruktur senior PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia, Shihan Hartanto Chandra mengatakan, latihan fisik merupakan fondasi penting bagi seorang karateka. “Selain fisik, pembinaan mental para atlet sangat diperlukan agar terbangun mentalitas yang tangguh, terutama saat menghadapi kompetisi dan kejuaraan,” ujarnya, Minggu (11/10/2026).
Menurut Hartanto, pembinaan tersebut membutuhkan sinergi antara pelatih dan orang tua. Keduanya perlu memahami bahwa, latihan yang terkesan keras bukan bertujuan menanamkan perilaku kasar, melainkan membentuk kedisiplinan dan karakter. “Itu yang jauh lebih utama,” tegasnya.
Pelatih dan pembina senior Kyokushinkai Surabaya, Sensei Lukman Hadi,, menjelaskan bahwa fisik, stamina, dan teknik merupakan pilar utama latihan. “Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan mental dan kepatuhan terhadap nilai-nilai positif,” jelasnya..
Bagi sebagian anak dan remaja, keputusan mengikuti karate berangkat dari pengalaman yang mereka hadapi di lingkungan sosial, termasuk perundungan atau bullying.
Karateka berusia 15 tahun dari SMP Negeri 10 Surabaya, Rinjani Aurellia mengaku mulai berlatih untuk meningkatkan kepercayaan diri setelah mengalami pengalaman sosial yang kurang menyenangkan.
Setelah berlatih selama empat hingga lima tahun, ia merasakan perubahan dalam cara menghadapi situasi sehari-hari. Ia juga merasa lebih mampu mengendalikan emosi dan menjalin komunikasi dengan orang lain. Pengalaman tersebut membuatnya memandang karate lebih dari sekadar keterampilan menghadapi lawan di arena.
“Latihan menjadi bagian dari proses mengenali diri, mengelola emosi, dan menghadapi persoalan sehari-hari dengan lebih tenang,” ungkapnya.
Manfaat serupa dirasakan Rianna Forto, salah seorang warga karate PMK Kyokushinkai Surabaya. Menurutnya, latihan karate membantu meningkatkan kepercayaan diri, terutama ketika harus beraktivitas secara mandiri.
“Karate sangat penting, terutama di zaman sekarang ketika kejahatan semakin banyak. Ikut karate membuat kita lebih percaya diri dan bisa melindungi diri,” katanya.
Peran keluarga juga menjadi bagian penting dalam pembinaan karate. Desi, salah seorang orang tua karateka, memutuskan mengikutsertakan ketiga anaknya. Satu perempuan dan dua laki-laki.
Keputusan tersebut berangkat dari pengalaman anak pertamanya yang pernah mengalami bullying dan nyaris menjadi korban pelecehan. “Saya bilang, enggak 24 jam mami akan stay buat kamu. Anak perempuan juga harus fight,” tuturnya.
Dari anak pertama, kedua adiknya kemudian turut mengikuti latihan. Desi mengatakan ketiga anaknya juga pernah mengalami perundungan di sekolah.
Setelah mengikuti karate, ia melihat perubahan dalam kepercayaan diri, kedisiplinan, dan kemampuan anak-anak mengendalikan emosi. Mereka juga dinilai lebih berani menjaga diri serta membantu teman yang membutuhkan.
“Dua di antaranya bahkan telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan nasional,” katanya.
Pembinaan yang berlangsung secara konsisten menjadikan Surabaya salah satu basis penting Kyokushinkai di Jawa Timur, dengan jumlah anggota yang disebut tergolong besar.
Pembina Dojo Kupang Jaya, Sensei Arief Sugiarto menjelaskan, perguruan menerapkan kurikulum terpusat untuk memetakan potensi karateka. Pembinaan diarahkan pada nomor kumite, yakni pertarungan, maupun kata, yaitu rangkaian gerakan atau jurus.
Menurut Arief, minat karateka terhadap kedua nomor tersebut terpantau relatif seimbang. Sementara itu, perhatian orang tua terhadap persoalan bullying turut menjadi salah satu faktor yang mendorong ketertarikan masyarakat terhadap latihan karate.
“Pemetaan bakat melalui kurikulum pembinaan diharapkan dapat membantu karateka mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing,” ungkapnya.
Pembentukan karakter dalam Kyokushinkai tidak hanya dilakukan di dalam dojo. Nilai-nilai yang dipelajari selama latihan juga diwujudkan melalui kegiatan sosial, salah satunya bakti sosial ke YPAC Surabaya.
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menanamkan empati dan rasa hormat kepada sesama, termasuk penyandang disabilitas. Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan stamina peserta.
Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia memiliki sejarah panjang yang dirintis mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A., pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung kepada Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo.
Embrio perguruan tersebut lahir di Kota Batu, Malang, pada 1967 dengan nama awal Go No Sen. Seiring perkembangannya, perguruan ini dikenal sebagai Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Saat ini, regenerasi menjadi salah satu fokus pembinaan. Shihan Hartanto Chandra menegaskan bahwa pengembangan prestasi perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. “Tujuannya agar lahir generasi karateka yang memiliki keberanian, disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan diri,” tandasnya.
Editor: Arif Ardliyanto