Aries menegaskan bahwa tanpa inovasi, pendidikan akan sulit berkembang. Dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang cepat, dunia pendidikan dituntut untuk selalu beradaptasi.
“Kami percaya bahwa inovasi adalah kunci perubahan. Melalui EJIES 2025 yang kami usung sebagai Tahun Inovasi, kami ingin menanamkan semangat perubahan di seluruh lini pendidikan,” jelasnya.
Selain mengumumkan 250 karya inovatif terbaik, forum ini juga menjadi ajang pencerahan bagi insan pendidikan. Dindik Jatim ingin menanamkan pemahaman bahwa inovasi bukan sekadar ide, melainkan langkah nyata menuju transformasi pendidikan.
Proses seleksi belum berhenti sampai di sini. Dindik Jatim menargetkan 30 karya inovasi terbaik yang akan diseleksi lebih ketat melalui penilaian proposal, video dokumentasi, hingga presentasi langsung dari para inovator.
“Banyak karya luar biasa yang masuk. Namun kami harus memilih yang paling siap untuk dikembangkan lebih lanjut,” tutur Aries.
Program EJIES 2025 membuka 10 kategori utama inovasi, antara lain: Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Teknologi dalam Pendidikan, Peningkatan Kapasitas Guru, Pemberdayaan Siswa, Kolaborasi Sekolah dan Industri, Pengelolaan Sekolah yang Efisien, Pendidikan Inklusif dan Khusus, Pengembangan Ekstrakurikuler, Implementasi Sekolah Ramah Anak dan Penguatan Kelembagaan Pendidikan.
Dari seluruh kategori, dua tema yang paling banyak diangkat oleh peserta adalah Teknologi dalam Pendidikan serta Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran.
Tiga daerah yang mencatat jumlah peserta dan karya inovasi terbanyak adalah:
1. Wilayah Kediri:
- 4.500 peserta
- 4.197 karya
2. Wilayah Bojonegoro:
- 3.538 peserta
- 3.275 karya
- Wilayah Ponorogo dan Bondowoso:
- Ponorogo: 2.704 peserta
- Bondowoso: 2.383 karya
Melalui EJIES 2025, Dindik Jatim berharap dapat membangun budaya inovasi yang kuat dalam dunia pendidikan. Dengan menggandeng ITS dan media, serta melibatkan kepala sekolah, guru, hingga kepala bidang di seluruh cabang dinas, program ini menjadi tonggak penting menuju pendidikan yang lebih responsif, adaptif, dan berkualitas.
“Ilmu pengetahuan terus berkembang, kurikulum terus berubah. Kita harus cepat beradaptasi dan menjadikan inovasi sebagai bagian dari budaya pendidikan,” pungkas Aries.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
