Beban Kuliah Bikin Mahasiswa Kesehatan Tak Bisa Hidup Sehat, Ini Solusinya

Fahrezi Chandra
Ironi terjadi di kalangan mahasiswa kesehatan. Mereka yang mempelajari pola hidup sehat justru kesulitan menerapkannya pada diri sendiri. Foto: Pinterest

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Ironi terjadi di kalangan mahasiswa kesehatan. Mereka yang mempelajari pola hidup sehat justru kesulitan menerapkannya pada diri sendiri. Tidur larut malam, makan tidak teratur, hingga stres berkepanjangan menjadi bagian dari keseharian. Farah Dina Azizatul Aulia, mahasiswi Keperawatan Universitas Airlangga, mengidentifikasi empat akar masalah yang membuat mahasiswa kesehatan jauh dari kata sehat, beserta solusinya.

Beban Akademik Tinggi Jadi Penyebab Utama

Jurusan kesehatan identik dengan praktikum panjang, laporan detail, dan jadwal padat hampir setiap hari. Farah menjelaskan, banyak mahasiswa harus menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk praktikum, kemudian mengerjakan laporan di malam hari dengan tenggat waktu ketat.

"Prioritas hidup sehat kalah dengan deadline. Tidur dikorbankan, pola makan berantakan, olahraga dianggap barang mewah. Ketika kelelahan mulai menggerogoti tubuh, mahasiswa justru memaksa diri tetap produktif demi mengejar nilai," ujar Farah.

Untuk mengatasi masalah ini, Farah menyarankan pihak institusi menata ulang beban akademik agar tidak menumpuk. Mahasiswa juga perlu menerapkan micro scheduling, membagi waktu istirahat dalam potongan kecil 15-20 menit agar tubuh sempat pulih. Teknik time blocking juga dapat membantu menghindari lembur berlebihan selama beberapa hari berturut-turut.

Budaya "Tahan Lelah" yang Dinormalisasi

Masalah kedua adalah normalisasi budaya "tahan lelah" di lingkungan kampus. Di banyak jurusan kesehatan, lelah dianggap hal biasa. Bahkan muncul budaya bangga: bangga begadang demi laporan, bangga kuat menghadapi jadwal padat, bangga makan tidak teratur karena sibuk praktikum.

"Tanpa disadari, budaya ini mendorong mahasiswa memaksakan diri dan menganggap batas tubuh itu fleksibel. Padahal, kita mempelajari bahwa kurang tidur mengganggu hormon, stres kronis berdampak pada imunitas, dan tubuh butuh ritme stabil. Tetapi lingkungan tempat belajar justru tidak mendukung terciptanya ritme itu," kata Farah.

Menurutnya, penting untuk mengubah narasi bahwa istirahat adalah kebutuhan, bukan kelemahan. Komunitas atau kelompok belajar perlu saling mengingatkan untuk menjaga keseimbangan hidup, bukan hanya nilai akademik.

Manajemen Waktu Lemah dan Distraksi Tinggi

Penyebab ketiga adalah minimnya manajemen waktu yang diperparah oleh distraksi dari gadget dan media sosial. Banyak mahasiswa terjebak dalam pola menunda-nunda lalu lembur.

"Distraksi membuat mereka sulit memulai tugas. Akhirnya tugas menumpuk, dan pilihan satu-satunya adalah begadang. Ketika pola ini terulang beberapa minggu berturut-turut, tubuh kehilangan ritmenya. Bangun siang, makan tidak teratur, energi cepat habis, lalu makin sulit fokus. Jadilah lingkaran yang sulit diputus," jelas Farah.

Ia menawarkan beberapa solusi, di antaranya membuat perencanaan harian yang sangat sederhana dengan tiga tugas utama saja, menyusun prioritas berdasarkan urgensi, dan menggunakan teknik Pomodoro agar otak tidak cepat jenuh.

Tekanan Mental yang Terabaikan

Masalah terakhir adalah tekanan emosional dan mental yang jarang diperhatikan. Farah menyebutkan, banyak mahasiswa menghadapi tekanan besar seperti takut nilai buruk, takut mengecewakan orang tua, takut tidak kompeten, hingga merasa tertinggal dari teman lain.

"Tekanan ini memicu stres berkepanjangan yang kemudian memengaruhi pola tidur, selera makan, dan motivasi. Masalahnya, tidak semua kampus menyediakan dukungan kesehatan mental yang memadai. Banyak mahasiswa akhirnya menyimpan stres sendiri hingga tubuh menunjukkan gejala: sering sakit, mudah pusing, gampang marah, bahkan kehilangan semangat belajar," ungkapnya.

Farah mengusulkan agar kampus kesehatan mengintegrasikan konseling atau edukasi kesehatan mental, mengajarkan keterampilan coping seperti mindfulness, journaling, dan relaksasi napas. Mahasiswa juga perlu membiasakan diri membuka percakapan tentang stres dan kelelahan dengan teman agar tidak merasa sendirian.

Farah menegaskan, mahasiswa kesehatan bukan robot yang bisa selalu hidup ideal. Masa kuliah adalah masa belajar, termasuk belajar menjaga diri sendiri.

"Yang penting bukan menjadi mahasiswa yang selalu hidup sehat, tetapi menjadi mahasiswa yang ingin hidup lebih sehat, sedikit demi sedikit. Bagaimana kita bisa membantu orang lain menjaga kesehatannya kelak, jika kita sendiri tidak memberi kesempatan tubuh kita untuk dipulihkan?" tanyanya.

Farah mendorong mahasiswa memulai dari langkah kecil: makan tepat waktu, tidur cukup, dan berhenti membanggakan lelah. Dengan demikian, kesehatan bisa kembali menjadi prioritas, bukan sekadar pelajaran teori.

Penulis:

Farah Dina Azizatul Aulia (Mahasiswa Keperawatan UNAIR

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network