SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Ratusan mahasiswa yang melakukan aksi di depan gedung DPRD pada 19 Agustus 2025 lalu tak menyurutkan tekadnya meskipun diguyur hujan. sekitar 300 massa dari aliansi "Nakama Bergerak" tetap bertahan dengan poster basah kuyup, menyuarakan 30 tuntutan mulai dari penolakan RKUHAP hingga kritik terhadap kebijakan ekonomi yang dinilai memberatkan rakyat.
Suara yel-yel bersahutan di antara derasnya air hujan. Mahasiswa berjaket almamater berdiri rapat, beberapa berbagi payung, yang lain membiarkan tubuhnya basah sambil terus mengangkat poster bertuliskan tuntutan. Atmosfer solidaritas terasa kental, bukan hanya dari teriakan, tapi juga dari botol air minum yang dibagikan, masker cadangan yang diedarkan, hingga koordinator lapangan yang terus memastikan barisan tetap tertib.
Muhammad Rifqi Mulyana, mahasiswa Administrasi Publik yang turut dalam aksi tersebut, mengaku awalnya ragu. "Sebelum turun ke jalan, banyak yang bilang demonstrasi itu berbahaya, penuh kericuhan. Keluarga saya sempat khawatir," ungkapnya. Namun keraguan itu sirna begitu ia menyaksikan langsung bagaimana massa bergerak dengan disiplin dan tujuan yang jelas.
Aksi yang digelar aliansi mahasiswa ini mengangkat spektrum isu luas, dari penolakan regulasi kontroversial seperti RKUHAP, penolakan penulisan ulang sejarah, hingga tuntutan jaminan kebebasan berekspresi dan perlindungan bagi aktivis kampus. Mereka juga menyoroti persoalan pendidikan kesejahteraan guru dan dosen, pemerataan akses belajar serta mengkritik kebijakan ekonomi dan perpajakan yang dianggap membebani masyarakat kecil.
Tidak berhenti di situ, mahasiswa turut menyuarakan isu perampasan tanah adat, pemberantasan korupsi, hingga penolakan militerisme di lingkungan kampus. Semua tuntutan itu dikemas dalam orasi yang bergantian, diperkuat spanduk dan pamflet yang dibawa oleh massa.
Setelah hampir dua jam aksi berlangsung, Ketua DPRD Jawa Timur, M Musyafak Rouf, turun langsung menemui para demonstran. Dialog singkat pun terjadi di tengah suasana yang masih basah. Dalam pernyataannya, ketua dewan menyampaikan komitmen untuk menindaklanjuti aspirasi mahasiswa. Dari 30 tuntutan yang diajukan, 24 di antaranya disetujui untuk dikawal lebih lanjut, sementara sisanya akan dibahas sesuai kewenangan DPRD.
"Saya melihat langsung bagaimana suara kolektif bisa membentuk kekuatan. Massa yang datang bukan hanya mahasiswa, tapi juga pekerja dan masyarakat umum. Itu menunjukkan bahwa demonstrasi adalah ruang inklusif," kata Rifqi.
Ia juga menekankan pentingnya literasi informasi bagi peserta aksi. "Setiap orang yang turun ke jalan harus paham isu yang diperjuangkan, bukan sekadar ikut-ikutan. Itu yang membuat demonstrasi tetap bertanggung jawab dan berorientasi pada solusi." ungkapnya
Meski mayoritas peserta menjaga kedamaian, Rifqi mengakui ada momen ketegangan ketika massa bergerak maju mendekati barikade aparat. Namun, koordinator lapangan segera mengambil kendali, memastikan situasi tidak memanas. "Di situlah saya sadar, disiplin massa dan edukasi etika demonstrasi sangat krusial untuk mencegah konflik," ujarnya.
Bagi Rifqi, pengalaman turun ke jalan membuka perspektif baru tentang partisipasi warga dalam demokrasi. "Demonstrasi bukan hanya soal protes. Ini ekspresi kesadaran bahwa kita punya hak bersuara, dan suara itu penting untuk mengawal kebijakan publik," tandasnya.
Penulis:
Muhammad Rifqi Mulyana ( Mahasiswa Administrasi Publik Unair )
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
