Kenny menegaskan, manfaat proyek ini tidak hanya dirasakan warga Semolowaru. Kelurahan Nginden Jangkungan dan Semampir juga diproyeksikan ikut merasakan dampak positif, mengingat wilayah tersebut termasuk daerah dengan kontur tanah rendah.
“Selama ini kawasan kami memang menjadi titik rawan genangan. Kalau pompa dan saluran ini terbangun, dampaknya bisa dirasakan lintas kelurahan,” jelasnya.
Secara teknis, panjang saluran air yang akan dibangun diperkirakan sekitar 400 hingga 500 meter, membentang dari belakang Gereja Bethany hingga depan kawasan Universitas HWS, lalu dialirkan menuju Kali Jagir.
Kenny berharap seluruh pihak yang terlibat dapat segera mencapai kesepakatan agar rencana ini tak berhenti di atas kertas.
“Kami berharap pembahasan bisa segera tuntas sehingga pembangunan dapat mulai direalisasikan pada 2026,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Jawa Timur Rasiyo mengingatkan bahwa setiap pembangunan infrastruktur harus melalui tahapan perencanaan dan mekanisme resmi pemerintah.
“Semua usulan pembangunan wajib melalui musrenbang dan pembahasan di tingkat kota. Jika itu menjadi kewenangan provinsi dan dirasa berat bagi kota, maka bisa diusulkan ke provinsi,” terang Rasiyo.
Ia menambahkan, usulan yang diajukan tahun ini akan masuk dalam perencanaan tahun berikutnya. Artinya, rencana pembangunan yang diusulkan pada 2026 baru bisa direalisasikan melalui penganggaran tahun 2027.
Meski begitu, bagi warga Semolowaru dan sekitarnya, wacana ini sudah menjadi secercah harapan—bahwa suatu hari, hujan deras tak lagi identik dengan banjir dan keresahan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
