SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Bagi sebagian mahasiswa di Surabaya, bangku kuliah bukan hanya ruang belajar, tetapi juga arena bertahan hidup. Setiap awal semester sering kali bukan soal memilih mata kuliah, melainkan menghitung ulang kemampuan orang tua membayar UKT, SPP, dan biaya hidup yang terus merangkak naik.
Di titik inilah, kebijakan percepatan beasiswa bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) yang digagas Pemerintah Kota Surabaya menemukan relevansi sosialnya.
Pendidikan tinggi selama ini kerap dibicarakan dalam bahasa ideal: prestasi, daya saing, dan masa depan bangsa. Namun di level mahasiswa, realitasnya jauh lebih sederhana sekaligus getir—soal cukup atau tidaknya biaya untuk terus bertahan. Banyak mahasiswa berprestasi terpaksa menunda mimpi, bahkan berhenti kuliah, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena keterbatasan ekonomi. Kebijakan beasiswa untuk mahasiswa PTS hadir sebagai jawaban konkret atas persoalan itu.
Di kota besar seperti Surabaya, perguruan tinggi swasta bukan pilihan alternatif, melainkan tulang punggung akses pendidikan tinggi. Ribuan mahasiswa yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri menemukan harapan di PTS. Mereka datang dari berbagai latar belakang—anak buruh, pedagang kecil, pekerja informal, hingga generasi pertama di keluarganya yang berhasil menjejakkan kaki di dunia kampus.
Namun selama bertahun-tahun, kebijakan bantuan pendidikan cenderung lebih berpihak pada mahasiswa perguruan tinggi negeri. Akibatnya, muncul kesenjangan akses yang senyap tetapi nyata. Mahasiswa PTS kerap berada di wilayah abu-abu: sama-sama warga negara, sama-sama berjuang menuntut ilmu, tetapi tidak selalu mendapat perlakuan kebijakan yang setara.
Perwali dan Keberanian Membaca Realitas
Langkah Pemkot Surabaya mempercepat program beasiswa bagi mahasiswa PTS melalui penyempurnaan regulasi patut dibaca sebagai keberanian politik yang berpihak pada realitas sosial. Peraturan Wali Kota yang merupakan kelanjutan dari Perwali Nomor 135 Tahun 2022 dan diperbarui melalui Perwali Nomor 45 Tahun 2025—yang direncanakan efektif pada 2026—bukan sekadar administrasi kebijakan.
Pendataan kampus mitra yang dilakukan lebih awal menunjukkan keseriusan pemerintah daerah. Ini bukan program dadakan, melainkan hasil pembacaan atas kebutuhan riil mahasiswa. Percepatan beasiswa bukan hanya soal waktu pencairan, tetapi juga sinyal bahwa negara hadir lebih dekat dengan persoalan warganya.
Sering kali bantuan pendidikan dipersepsikan sebagai beban anggaran daerah. Padahal, jika ditarik lebih jauh, beasiswa adalah investasi sosial jangka panjang. Mahasiswa yang hari ini dibantu untuk menyelesaikan studinya adalah calon tenaga profesional, wirausaha, pendidik, dan pemimpin lokal di masa depan.
Dari sudut pandang kampus, kebijakan ini menciptakan stabilitas akademik. Mahasiswa dapat fokus belajar tanpa dibayangi kecemasan finansial, sementara perguruan tinggi mampu menjaga mutu pendidikan. Lingkaran ini pada akhirnya menguntungkan kota secara keseluruhan—baik secara ekonomi, sosial, maupun kualitas sumber daya manusia.
Keberanian kebijakan harus diimbangi dengan tata kelola yang akuntabel. Seleksi penerima beasiswa perlu transparan, berbasis data, dan tepat sasaran. Kampus sebagai mitra pemerintah memegang peran penting untuk memastikan program berjalan jujur dan profesional.
Beasiswa tidak boleh berhenti sebagai bantuan sesaat. Ia harus menjadi pendorong mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu, meningkatkan prestasi, dan kelak kembali memberi kontribusi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak semestinya dibedakan oleh label negeri atau swasta. Sistem pendidikan nasional telah menempatkan seluruh perguruan tinggi dalam satu ekosistem yang sama. Yang dibutuhkan adalah keberanian menerjemahkan prinsip itu ke dalam kebijakan nyata.
Surabaya telah mengambil langkah progresif dengan memperluas akses beasiswa bagi mahasiswa PTS. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan kebijakan tersebut. Jika berhasil, Surabaya tidak hanya membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga sedang menyiapkan masa depan—melalui anak-anak muda yang diberi kesempatan untuk terus belajar dan bermimpi.
Penulis:
Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
