Harga Emas Terus Naik, Prediksi Akhir 2026 Hampir Tembus Rp3 Juta, Pengamat Ekonomi Ungkap Alasannya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Awal 2026 menjadi momen bersejarah bagi pasar emas dunia. Logam mulia mencuri perhatian setelah harga globalnya menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Sejak akhir 2025, grafik emas terus menanjak tanpa banyak jeda, mencerminkan kegelisahan pelaku pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.
Data pasar menunjukkan harga spot emas sempat menyentuh kisaran USD 158 per gram atau sekitar Rp 2,64 juta per gram. Angka tersebut melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan periode sebelumnya dan bertahan kuat hingga kuartal awal 2026. Bagi sebagian investor, emas kini bukan sekadar komoditas, melainkan “tempat berlindung” di tengah situasi dunia yang sulit diprediksi.
Pengamat Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Zulfikri Charis, menilai lonjakan harga emas mencerminkan perubahan pola pikir investor global. Ketidakpastian ekonomi, inflasi yang masih menekan, hingga tensi geopolitik membuat banyak pihak memilih bermain aman.
“Emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven. Saat risiko meningkat dan pasar keuangan bergejolak, investor cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap paling stabil dan bernilai jangka panjang,” ujar Zulfikri.
Ia menjelaskan, konflik geopolitik yang belum menemukan titik terang, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, serta tekanan inflasi global menjadi kombinasi kuat yang menopang reli harga emas. Dalam kondisi seperti ini, emas kerap dipersepsikan sebagai penjaga nilai aset yang relatif tahan terhadap guncangan.
Optimisme terhadap emas bahkan datang dari lembaga keuangan internasional. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar dunia, merevisi proyeksi harga emas ke level yang lebih tinggi. Mereka mematok target harga emas mencapai USD 174 per gram atau sekitar Rp 2,91 juta per gram pada akhir 2026, seiring ekspektasi permintaan yang terus menguat.
Menurut Zulfikri, revisi proyeksi tersebut memiliki dasar yang kuat secara fundamental. Salah satu faktor kunci adalah arah kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat.
“Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, khususnya dari The Fed, membuat emas semakin menarik. Ketika suku bunga berpotensi diturunkan, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah dibanding instrumen berbunga,” jelasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
