Di Tengah Era Digital, SMK Ketintang Surabaya Tanamkan Nilai Isra Mi’raj pada Generasi Z

Arif Ardliyanto
SMK Ketintang Surabaya memaknai peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum menanamkan nilai iman, akhlak, dan disiplin salat bagi siswa Generasi Z. Foto Surabaya.iNews.id/ist

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Lapangan SMK Ketintang Surabaya pagi itu terasa berbeda. Sejak matahari belum terlalu tinggi, siswa dan guru sudah berkumpul dengan wajah tenang. Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara seremonial, tetapi untuk menengok kembali perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Isra Mi’raj, sebuah kisah spiritual yang diharapkan menancap kuat di hati Generasi Z.

Tanpa panggung megah dan tata suara berlebihan, kegiatan dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari anggota ekstrakurikuler Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Suara tahfidz yang mengalun pelan seketika meredam hiruk-pikuk. Lapangan sekolah yang biasanya ramai berubah hening, seolah semua yang hadir diajak berhenti sejenak dari laju dunia.

Tak hanya pembacaan Al-Qur’an, rangkaian acara juga diisi dengan istighosah dan penampilan banjari yang membuat suasana semakin khidmat. Para guru pun turut larut, duduk berdampingan dengan siswa, menegaskan bahwa nilai keimanan bukan sekadar pelajaran di kelas, tetapi pengalaman yang dijalani bersama.

Di tengah derasnya arus digital, sekolah melihat tantangan generasi muda semakin nyata. Bukan hanya soal kecanduan gawai, tetapi juga godaan lain seperti pergaulan bebas, kekerasan, hingga perjudian daring yang kini bisa diakses hanya lewat sentuhan jari. Fenomena itu menjadi alasan SMK Ketintang Surabaya memilih menghadirkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW secara konsisten dalam kehidupan sekolah.

Melalui ceramah yang disampaikan, siswa diajak memahami makna Isra Mi’raj, mulai dari perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, hingga menembus tujuh lapis langit dan menerima perintah salat langsung dari Allah SWT. Kisah tersebut tidak hanya diceritakan sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai fondasi moral untuk menghadapi tantangan zaman.

“Ceramah ini membahas risiko pergaulan yang tidak terkendali, sekaligus menekankan pentingnya menjaga salat lima waktu,” ujar Nafi’ah, Guru Pendidikan Agama Islam SMK Ketintang Surabaya.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network