Cerita Anak Pelosok di Surabaya Menanti MBG, dr. Dwi Wijayanto Ungkap Dampak Nyata Program Prabowo

Arif Ardliyanto
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa harapan baru bagi anak-anak kurang mampu. dr. Dwi Wijayanto membagikan kisah menyentuh dari lapangan. Foto Surabaya.iNews.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah riuh kritik dan narasi negatif yang beredar di ruang publik, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto justru menyimpan cerita-cerita kecil yang jarang tersorot. Cerita tentang anak-anak di pelosok yang menanti kedatangan makanan bergizi, bukan sekadar untuk mengisi perut, tetapi juga menumbuhkan semangat bersekolah.

dr. Dwi Wijayanto, Wakil Ketua DPC Gerindra Surabaya sekaligus Bendahara PD Tidar Jawa Timur, menilai polemik yang berkembang sering kali menutupi esensi utama program MBG. Padahal, di lapangan, program ini telah memberi dampak nyata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Kalau kita melihat langsung ke bawah, ceritanya jauh berbeda. Ada anak-anak yang benar-benar menunggu mobil MBG datang. Mereka jadi lebih semangat ke sekolah karena tahu hari itu mereka bisa makan dengan layak,” ujar dr. Dwi ditengah acara Natal PD Tidar Jawa Timur di Gereja AOC (Alfa Omega Crurch) Jalan Darmo Permai Utara Surabaya.


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa harapan baru bagi anak-anak kurang mampu. dr. Dwi Wijayanto membagikan kisah menyentuh dari lapangan. Foto Surabaya.iNews.id/arif

Menurutnya, setiap kebijakan nasional tentu memiliki sisi plus dan minus. Namun, MBG sejak awal dirancang untuk menyasar kelompok yang selama ini kesulitan mengakses gizi seimbang, terutama anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Ia pun menuturkan kisah yang menurutnya sangat menyentuh. Di beberapa sekolah, ada siswa penerima manfaat yang memilih tidak menghabiskan makanan di sekolah. Bukan karena tidak suka, melainkan karena ingin membawanya pulang.

“Ada anak-anak yang membungkus makanannya untuk dibagi dengan keluarga di rumah. Ini menunjukkan bahwa program ini benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan, bukan sekadar formalitas,” katanya.

dr. Dwi menilai, kritik yang muncul kerap datang dari sudut pandang kelompok yang relatif sudah memiliki privilese. Sementara itu, suara anak-anak di pelosok yang merasakan langsung manfaat MBG justru jarang terdengar.

“Fokus Presiden Prabowo itu jelas, bukan pada mereka yang sudah punya banyak pilihan, tapi pada anak-anak yang selama ini terpinggirkan, yang bahkan akses informasinya terbatas karena internet pun sulit,” tegasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa pelaksanaan MBG di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari kesiapan dapur, distribusi makanan, hingga koordinasi antar pelaksana di satuan pendidikan.

“Ini program besar dan masih relatif baru. Jadi kalau ada kekurangan di sana-sini, itu wajar. Yang penting, pemerintah tidak menutup mata dan terus melakukan evaluasi,” ujarnya.

Salah satu langkah perbaikan yang diapresiasi dr. Dwi adalah penyesuaian kapasitas penerima manfaat di setiap dapur MBG. Jika sebelumnya satu dapur melayani hingga 3.500 sampai 4.000 anak, kini jumlahnya diturunkan menjadi sekitar 2.000 penerima.

“Dengan kapasitas yang lebih realistis, kualitas makanan dan distribusinya bisa lebih terjaga. Ini bukti pemerintah mau belajar dari kondisi di lapangan,” jelasnya.

Ke depan, dr. Dwi berharap pengawasan terhadap anggaran dan pelaksanaan MBG terus diperkuat agar program tersebut benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Kalau pengawasan konsisten dan evaluasi terus dilakukan, saya optimistis Program Makan Bergizi Gratis bisa menjadi fondasi penting untuk masa depan anak-anak Indonesia, terutama mereka yang paling membutuhkan,” pungkasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network