Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan, Pelindo Terminal Petikemas juga menyiapkan investasi alat bongkar muat baru. Pada 2026, TPS Surabaya dijadwalkan menerima tambahan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Sementara itu, TPK Berlian akan diperkuat dengan dua unit QCC yang diperkirakan tiba pada pertengahan tahun.
“Perbaikan terus kami lakukan, bukan hanya di Tanjung Perak, tetapi di seluruh wilayah kerja Pelindo Terminal Petikemas dari Belawan hingga Merauke,” tambah Widyaswendra.
Dari sisi pengguna jasa, Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Stenven Handry Lesawengan, mengakui pihaknya sempat menerima laporan keterlambatan bongkar muat, khususnya di TPK Berlian akibat kesiapan alat. Namun, ia menilai komunikasi antara pengusaha pelayaran dan pengelola terminal berjalan cukup baik.
“Tidak pernah ada antrean kapal sampai berhari-hari. Kalau ada kendala di lapangan, biasanya langsung dicarikan solusi bersama,” kata Stenven.
Senada, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong percepatan peremajaan alat bongkar muat di seluruh terminal peti kemas Tanjung Perak. Menurutnya, ukuran kapal dan arus peti kemas yang terus meningkat menuntut dukungan peralatan yang lebih modern dan andal.
“Kami menyambut baik rencana kedatangan alat baru di TPS Surabaya. Harapannya, langkah serupa juga dilakukan di terminal lain, khususnya TPK Berlian,” ujarnya.
Dengan adanya investasi alat dan koordinasi yang lebih intensif antara pengelola terminal dan pengguna jasa, pelaku industri berharap pelayanan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak dapat semakin cepat, efisien, dan mampu menopang kelancaran arus logistik nasional.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
