Menurutnya, pembangunan struktur penahan tanah justru bertujuan menjaga kestabilan tebing sungai. Sebelum ada plengsengan, kondisi bantaran masih berupa lereng alami yang dinilai berpotensi longsor, terutama saat debit air meningkat.
“Kalau tidak dibuat plengsengan, rawan longsor. Sekarang lebar sungai justru lebih terjaga,” jelasnya.
Selain memperkuat tebing, pihak pengembang juga melakukan normalisasi sungai. Endapan lumpur dan sampah yang menghambat aliran dibersihkan menggunakan alat berat agar air dapat mengalir lebih lancar.
Di sisi lain, Johan mengakui adanya kekeliruan teknis pada pembangunan atap lapangan padel di sisi utara. Posisi atap disebut terlalu dekat dengan batas perizinan akibat kesalahan dalam penentuan titik acuan pembangunan (benchmark).
Ia memastikan pihaknya telah melakukan redesain untuk menyesuaikan posisi struktur dengan ketentuan izin yang berlaku.
“Kami sudah melakukan redesain untuk menggeser posisi atap agar sesuai izin,” tegasnya.
Proses perbaikan, kata dia, tidak bisa dilakukan secara instan karena melibatkan pekerjaan struktural, mulai dari pemancangan ulang, pembuatan pedestal, pendirian kolom baru, hingga pembongkaran sebagian atap lama.
Target penyelesaian perbaikan dijadwalkan rampung pada akhir April, dengan mempertimbangkan jeda libur Lebaran.
Sementara itu, Lurah Keputih, A.F. Fajar Febriansyah, menyampaikan bahwa pihak kelurahan masih berkoordinasi dengan dinas pertanahan untuk memastikan seluruh aspek administrasi dan teknis berjalan sesuai aturan.
“Kami masih berkomunikasi dengan dinas pertanahan terkait hal tersebut,” ujarnya singkat.
Pembangunan lapangan padel di kawasan permukiman ini menjadi gambaran bagaimana tren olahraga baru di Surabaya berkembang cepat, namun tetap memerlukan pengawasan agar aspek lingkungan dan tata ruang tetap terjaga. Di tengah antusiasme masyarakat terhadap olahraga, transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi kunci agar pembangunan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
