SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tradisi mudik menjelang Hari Raya Idulfitri kembali menjadi fenomena tahunan yang dinantikan jutaan masyarakat Indonesia.
Pergerakan besar-besaran dari kota menuju kampung halaman ini tidak sekadar perjalanan pulang, tetapi juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga setelah lama merantau.
Menjelang Lebaran, berbagai moda transportasi mulai dipadati penumpang yang hendak kembali ke daerah asal. Terminal, stasiun, pelabuhan hingga bandara mengalami lonjakan jumlah penumpang.
Banyak perantau memanfaatkan momentum ini untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus merayakan hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Di Surabaya, peningkatan arus mudik mulai terlihat sejak H-7 Lebaran. Salah satu titik yang menjadi pusat keberangkatan pemudik adalah Terminal Purabaya yang setiap tahunnya menjadi simpul transportasi darat terbesar di Jawa Timur.
Ribuan penumpang tampak memadati area terminal untuk menaiki bus menuju berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah hingga luar pulau. Antrean penumpang terlihat di sejumlah loket maupun area keberangkatan bus antarkota antarprovinsi.
Fenomena mudik tidak hanya menjadi peristiwa sosial, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar. Sektor transportasi, kuliner hingga penjualan oleh-oleh mengalami peningkatan permintaan. Para pedagang memanfaatkan momen ini untuk meraih keuntungan dari para pemudik yang singgah selama perjalanan.
Bagi sebagian masyarakat, mudik memiliki makna emosional yang mendalam. Selain berkumpul dengan keluarga, perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang masa kecil di kampung halaman serta mempererat hubungan dengan kerabat dan tetangga yang lama tidak ditemui.
Dosen Sosiologi dari Universitas Muhammadiyah Malang, Aan Sugiharto, menilai fenomena mudik bukan sekadar perpindahan manusia dalam jumlah besar, melainkan juga simbol kuat dari ikatan sosial masyarakat Indonesia.
“Dalam perspektif sosiologi, mudik merupakan bentuk reproduksi nilai kekeluargaan dan solidaritas sosial. Walaupun seseorang telah lama merantau dan hidup di kota besar, ikatan emosional dengan kampung halaman tetap terjaga dan biasanya diperbarui setiap momen Lebaran,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Di sisi lain, kata dia, meningkatnya jumlah pemudik juga menimbulkan sejumlah tantangan, seperti kepadatan lalu lintas, keterbatasan tiket transportasi hingga potensi kelelahan bagi pengendara.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
