BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Di balik sunyi kawasan hutan produksi di selatan Banyuwangi, tersimpan potensi alam yang selama ini nyaris luput dari perhatian. Kawasan di RPH Kedunggebang, BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan, perlahan mulai mencuri perhatian sebagai calon destinasi wisata berbasis ekologi.
Bukan sekadar hutan produksi biasa, area ini menyimpan hamparan mangrove yang tumbuh alami dan masih terjaga. Di tengah ancaman abrasi dan perubahan iklim, keberadaan mangrove ini menjadi benteng alami yang tak ternilai.
Kepala RPH Kedunggebang, Syaiful Anam, menyebut luas kawasan hutan produksi Petak 130e mencapai 348,8 hektare. Angka itu bukan hanya soal luas, tetapi juga menggambarkan besarnya potensi yang bisa dikembangkan.
“Ekosistem mangrove di sini punya nilai ekologis tinggi. Selain melindungi garis pantai dari abrasi, juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut dan mampu menyerap emisi karbon,” ujarnya.
Hutan produksi di Banyuwangi selatan menyimpan ekosistem mangrove seluas 348 hektare yang berpotensi jadi wisata edukasi berbasis alam dengan konsep konservasi berkelanjutan. Foto iNewsSurabaya.id/siswanto
Lebih dari itu, kawasan ini menyimpan peluang lain yang tak kalah penting: wisata edukasi. Di tengah tren wisata berbasis alam, mangrove Kedunggebang dinilai bisa menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Bayangkan berjalan di jalur kayu di tengah rimbunnya mangrove, mendengar suara burung liar, hingga melihat langsung kehidupan biota pesisir—pengalaman yang bukan hanya menyegarkan, tetapi juga memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga alam.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
