KBKPH/Asper Blambangan, Hermawan Andi Seswoyo, menegaskan bahwa kawasan ini berada di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, dan memiliki peluang besar menjadi destinasi baru di Banyuwangi selatan.
Namun, ia mengingatkan, pengembangan tidak boleh dilakukan sembarangan. Prinsip utama tetap konservasi.
“Setiap langkah pengembangan harus menjaga keseimbangan ekosistem. Ini bukan sekadar wisata, tapi juga upaya menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Menurutnya, perencanaan akan dilakukan secara bertahap dan terukur. Mulai dari akses menuju lokasi, penataan kawasan, hingga sistem pengawasan agar tidak merusak fungsi utama hutan.
Sebagai kawasan hutan produksi milik Perhutani, aturan tetap menjadi pegangan utama. Pengelolaan harus mengikuti regulasi yang berlaku, sekaligus mencegah aktivitas ilegal yang bisa merusak ekosistem mangrove yang masih alami.
Di tengah geliat pengembangan wisata di Banyuwangi, kawasan Kedunggebang menawarkan sesuatu yang berbeda—wisata yang tidak hanya dinikmati, tetapi juga dipelajari dan dijaga bersama.
Harapannya, keterlibatan masyarakat sekitar menjadi kunci. Bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari penjaga dan pengelola kawasan.
“Dukungan semua pihak sangat penting agar potensi ini bisa berkembang tanpa merusak alamnya,” pungkas Hermawan.
Kini, hutan yang dulu hanya dikenal sebagai kawasan produksi, perlahan membuka wajah barunya—sebagai ruang hidup, ruang belajar, dan harapan baru wisata berkelanjutan di Banyuwangi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
