SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ekspansi bisnis waralaba minimarket masih menunjukkan peluang pertumbuhan. Sejumlah wilayah di luar Jabodetabek, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur hingga luar Jawa, semakin menjadi tujuan pengembangan gerai.
Franchise Relation Regional Manager Region 3 PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), Riro Chandra Wicaksono, mengatakan tren pengajuan lokasi sepanjang 2026 lebih banyak mengarah ke luar Jabodetabek. Minat investasi dari luar Jawa juga menunjukkan perkembangan positif.
“Untuk tahun 2026 khususnya, lebih banyak yang cakupannya di luar Jabodetabek. Ada tambahan di luar Jawa. Itu jauh lebih banyak,” kata Riro sela pameran IFBC di Grand City Convex Ballroom, Jumat (11/10/2026).
Menurutnya, sejumlah daerah seperti Lombok, Luwu, Makassar hingga Kalimantan menunjukkan animo tinggi. Palembang juga menjadi salah satu wilayah dengan respons positif setelah pertama kali menjadi lokasi pameran pada 2026.
“Lombok, kemudian Luwu, Makassar, itu luar biasa. Bahkan sampai Kalimantan pun luar biasa. Yang terakhir di pameran Palembang, Sumatra pertama kali di 2026, animonya juga luar biasa,” ujarnya.
Riro mengatakan perusahaan mempertahankan target pembukaan sekitar 800 hingga 1.000 gerai secara nasional pada 2026. Target tersebut mencakup gerai reguler dan waralaba. Dari jumlah tersebut, kontribusi gerai waralaba diperkirakan mencapai sekitar 35-40 persen.
“Kalau untuk kami, secara market masih diminati oleh beberapa investor karena kami menawarkan sustainable. Kami bukan margin tinggi, tetapi karena kebutuhan pokok, jadi masih diminati. Terutama untuk kategori second business,” katanya.
Untuk menjaring calon investor, perusahaan rutin mengikuti pameran waralaba. Sepanjang 2026, perusahaan telah mengikuti lima pameran, dengan kegiatan di Surabaya menjadi salah satu pameran terakhir tahun ini.
Setiap pameran, perusahaan menargetkan sekitar 100 usulan lokasi dari calon investor. Jumlah tersebut tidak mencerminkan jumlah investor karena satu investor dapat mengajukan lebih dari satu lokasi.
Dalam pameran tersebut, perusahaan juga menawarkan sejumlah program bagi calon pewaralaba. Salah satunya pembebasan franchise fee senilai Rp45 juta untuk wilayah tertentu, termasuk Sidoarjo, Surabaya dan Jabodetabek. Sementara wilayah lainnya mendapat program diskon.
Menurut Riro, salah satu faktor yang mendorong minat investasi di daerah tersebut adalah tingkat persaingan yang belum terlalu tinggi, sementara permintaan masyarakat masih tersedia.
Selain itu, pergeseran investasi dari kawasan Jabodetabek ke Jawa Tengah dan Jawa Timur turut membuka peluang pertumbuhan bisnis ritel di wilayah tersebut.
“Investor dari Jabodetabek mengarahnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu contohnya ada perusahaan yang membuka pabrik baru di Temanggung dan Salatiga karena UMK-nya masih kompetitif,” ujarnya.
Di sisi lain, ekspansi gerai menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya sewa lokasi. Faktor tersebut menjadi salah satu penyebab penutupan sejumlah gerai.
Riro menyebut pembukaan gerai setiap tahun berada di kisaran 800 hingga 1.000 unit. Sementara penutupan gerai pada 2025 diperkirakan sekitar 500 unit.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
