Tak hanya berhenti pada aspek akademik, pembahasan juga menyentuh dimensi sosial. UWP memaparkan sejumlah program pengabdian kepada masyarakat yang selama ini dijalankan, mulai dari pemberdayaan UMKM, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan komunitas.
Program-program tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikolaborasikan dengan agenda CSR perusahaan.
Direktur TTL, Budi Satriyo, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai kemitraan dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam membangun keberlanjutan, baik dari sisi pengembangan sumber daya manusia maupun kontribusi sosial.
“Sinergi pendidikan dan industri sangat penting. Kami membuka peluang magang bagi mahasiswa UWP dan akan mengkaji bentuk dukungan CSR yang bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan program sosial yang lebih terarah, tepat sasaran, dan berkelanjutan, khususnya bagi warga di sekitar wilayah operasional terminal.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk segera menindaklanjuti pembahasan dalam bentuk langkah-langkah konkret. Mulai dari penyusunan skema magang, mekanisme seleksi mahasiswa, hingga sinkronisasi program pengabdian masyarakat.
Bagi mahasiswa UWP, kerja sama ini membuka harapan baru. Mereka tidak hanya akan belajar teori di bangku kuliah, tetapi juga berkesempatan menyerap pengalaman langsung dari industri logistik dan kepelabuhanan yang terus berkembang.
Jika sinergi ini berjalan sesuai rencana, kolaborasi antara UWP dan PT Terminal Teluk Lamong bukan hanya menguntungkan institusi dan perusahaan, tetapi juga memberi dampak sosial yang lebih luas bagi Surabaya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
