Kisah Nyata Syaikhona Kholil, Guru Para Ulama yang Punya Kelebihan Diatas Kiai

Arif Ardliyanto
Sosok Syaikhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru ulama Nusantara yang melahirkan ribuan tokoh pesantren dan pendiri NU. Foto dok NU

Mahaguru Ulama Nusantara

Kedalaman ilmunya membuatnya dijuluki Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru orang-orang Jawa. Diperkirakan sekitar 500 ribu santri pernah belajar di bawah bimbingannya sepanjang hidupnya. Ribuan di antaranya menjadi kiai, pendiri pesantren, dan tokoh masyarakat di berbagai wilayah.

Nama-nama besar lahir dari didikannya, termasuk KH M Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH As'ad Syamsul Arifin.

Kontribusi terbesarnya dalam sejarah bangsa adalah perannya sebagai inspirator berdirinya Nahdlatul Ulama. Meski wafat setahun sebelum NU resmi berdiri pada 1926, restu dan arahannya menjadi fondasi kuat lahirnya organisasi Islam moderat terbesar di Indonesia itu.

Sekitar tahun 1920, puluhan ulama Nusantara berkumpul di Bangkalan meminta petunjuknya terkait dinamika pemikiran keislaman saat itu. Pandangannya menjadi pijakan penting dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

Tak hanya mengajar, Syaikhona Kholil juga produktif menulis. Beberapa karyanya yang masih dipelajari di pesantren hingga kini antara lain: Al-Matnu as-Syarif (fikih ibadah), As-Silah fi Bayan an-Nikah (fikih pernikahan), Isti’dad al-Maut (fikih jenazah) dan Ratib Syaikhona Kholil (wirid dan doa)

Karya-karya ini menjadi bukti bahwa dedikasinya bukan sekadar mendidik murid, tetapi juga meninggalkan warisan literasi keislaman.

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H atau 1925 M. Kepergiannya menjadi duka besar umat Islam Nusantara. Ratusan ribu orang mengiringi pemakamannya. Hingga kini, makamnya di Martajasah, Bangkalan, tak pernah sepi dari peziarah.

Lebih dari sekadar ulama, Syaikhona Kholil adalah cahaya yang menyalakan lentera-lentera ilmu di berbagai penjuru negeri. Ia mendidik generasi, menginspirasi organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama, dan menjaga wajah Islam Nusantara tetap teduh dan moderat.

Warisan itu tak lekang oleh waktu. Dari Bangkalan, jejaknya terus hidup dalam doa para santri dan denyut pesantren di seluruh Indonesia

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network