Di antara beragam menu yang ditawarkan, satu sajian tetap menjadi magnet utama: kambing guling.
“Setiap tahun menjelang buka puasa itu pasti jadi favorit,” kata Edy.
Yang membuatnya berbeda, proses penyajian dilakukan secara langsung. Kambing guling dipanggang dan diiris di lokasi acara, masih panas saat disajikan ke tamu. Sensasi live cooking ini juga berlaku untuk bebek panggang, dimsum, hingga teh tarik yang diracik di tempat.
“Kambing gulingnya live, selalu tampil live dan masih panas,” tegasnya.
Bagi banyak pengunjung, pengalaman melihat proses memasak secara langsung menambah kesan personal dan eksklusif. Momen ini pula yang kerap menjadi pusat perhatian sekaligus spot favorit untuk dokumentasi.
Dengan konsep terpadu tersebut, harga yang ditawarkan dipatok Rp250 ribu nett per orang. Segmentasi yang dibidik adalah kelas menengah yang menginginkan pengalaman berbuka lebih dari sekadar makan bersama.
Untuk mendorong okupansi lebih cepat, tersedia promo diskon 20 persen hingga 22 Februari 2026.
“Harga publish Rp250 ribu nett per pax. Tapi kalau booking sekarang, bisa dapat 20 persen, jadi Rp200 ribu saja,” jelas Edy.
Tak hanya itu, insentif tambahan berupa doorprize—mulai dari gadget hingga voucher hotel—akan diundi dan diumumkan melalui media sosial. Strategi ini memperlihatkan bagaimana engagement digital kini menjadi bagian penting dalam bisnis bukber.
Fenomena ini menegaskan pergeseran pola konsumsi masyarakat kota besar seperti Surabaya. Ramadan memang tetap menjadi bulan spiritual, namun dalam praktik ekonomi, ia juga menjadi arena kompetisi bisnis yang semakin kreatif dan agresif.
Venue berlomba menghadirkan pengalaman menyeluruh: dekor megah, sajian premium, hiburan, hingga interaksi digital. Bukber tak lagi sekadar ritual tahunan, tetapi telah bertransformasi menjadi momen perayaan sosial yang dirancang dengan matang.
Di Surabaya, Ramadan 2026 bukan hanya tentang berbuka puasa—melainkan tentang bagaimana setiap momen dirasakan, dibagikan, dan dikenang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
