Arus Barang Melejit Jelang Lebaran, Pelabuhan di Jawa Dibanjiri Kontainer Naik hingga 130 Persen

Arif Ardliyanto
Lonjakan arus barang menjelang Lebaran membuat aktivitas pelabuhan di Jawa meningkat signifikan. Volume kargo bahkan diperkirakan naik hingga 130 persen. Foto ist

Kondisi serupa juga terjadi di Jawa Timur, khususnya di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang menjadi salah satu gerbang utama distribusi logistik ke wilayah Indonesia Timur.

Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mengatakan lonjakan arus barang menjelang Lebaran merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun. Namun pada 2026 ini, tekanan distribusi diperkirakan lebih tinggi.

Ia memprediksi volume arus logistik di Surabaya meningkat hingga 80 persen dibandingkan kondisi normal.

“Kebetulan momentum Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Idulfitri waktunya berdekatan. Jadi beban logistik memang cukup tinggi,” kata Wibi, sapaan akrabnya, Selasa (3/3/2026).

Selain memenuhi kebutuhan pasar Jawa, Surabaya juga berperan sebagai jalur transit menuju berbagai wilayah di Indonesia Timur. Banyak barang impor yang masuk melalui pelabuhan ini sebelum didistribusikan ke daerah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Untuk mencegah penumpukan kontainer, ALFI Jawa Timur menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya dengan memanfaatkan gudang ekspor sebagai tempat penampungan sementara barang impor.

“Kami melakukan pengalihan storage ekspor untuk menampung sementara impor. Ini dilakukan setelah koordinasi dengan Bea Cukai agar proses logistik tetap berjalan lancar,” jelasnya.

Di kawasan pelabuhan sendiri terdapat dua terminal utama yang menjadi pusat aktivitas bongkar muat, yakni Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya. Setiap tahun biasanya terjadi migrasi kontainer antarterminal untuk mengurangi kepadatan.

Wibi menambahkan, pada tahun sebelumnya lonjakan arus logistik bahkan sempat mencapai 103 persen. Namun kondisi tersebut masih dapat diantisipasi dengan memindahkan sebagian kontainer ke storage domestik maupun depo yang beroperasi selama 24 jam.

Meski begitu, ia menilai peningkatan kapasitas infrastruktur tetap menjadi kebutuhan penting ke depan.

“Pelabuhan seperti Tanjung Mas dan Tanjung Perak perlu perluasan lahan agar kapasitas penyandaran kapal bisa bertambah,” ujarnya.

Menghadapi lonjakan arus peti kemas menjelang Lebaran, PT Pelindo Terminal Petikemas juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi di terminal yang mereka kelola.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa sistem operasi terminal saat ini memungkinkan perencanaan layanan bongkar muat dilakukan jauh sebelum kapal sandar.

Melalui sistem tersebut, pengelola terminal dapat memprediksi tingkat kepadatan dermaga (berth occupancy ratio) serta tingkat kepadatan lapangan penumpukan peti kemas (yard occupancy ratio).

“Kami sudah melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk pengaturan lapangan penumpukan agar lebih optimal menampung peti kemas,” ujarnya.

Menurutnya, selama periode pembatasan angkutan barang menjelang Lebaran, peti kemas biasanya berada di terminal sekitar 16 hari sebelum akhirnya keluar untuk didistribusikan.

Untuk mengurai potensi kepadatan, pengelola terminal juga menyiapkan lokasi overbrengen atau pemindahan penumpukan peti kemas ke area lain.

Meski memasuki masa libur Lebaran, operasional terminal peti kemas tetap berjalan penuh selama 24 jam setiap hari.

“Kegiatan pelayanan tetap berlangsung sesuai jadwal dan perencanaan yang telah disiapkan,” tambahnya.

Pelindo juga mengimbau para pengguna jasa untuk memanfaatkan layanan terminal booking system. Sistem ini dinilai dapat membantu mengurangi kepadatan kendaraan di area pelabuhan maupun di jalan raya saat pengiriman dan pengambilan kontainer.

Di sisi lain, meningkatnya aktivitas logistik juga mencerminkan pergerakan ekonomi yang semakin dinamis.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, menilai lonjakan aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah.

Menurutnya, volume bongkar muat barang saat ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa. Bahkan sekitar 10 hari sebelum Lebaran, kenaikannya diperkirakan bisa mencapai 25 persen.

“Sejak Desember sudah terlihat tren peningkatan aktivitas bongkar muat. Biasanya akan semakin meningkat mendekati Lebaran,” katanya.

Komoditas yang mendominasi arus barang sebagian besar berasal dari kebutuhan konsumsi masyarakat, seperti bahan pangan, produk fesyen, hingga berbagai perlengkapan Lebaran.

Perputaran barang yang cepat tersebut dinilai memberi dampak positif bagi pelaku usaha, mulai dari sektor ritel hingga UMKM.

Sejauh ini, Frans mengaku belum menerima laporan terkait antrean panjang akibat penumpukan aktivitas di pelabuhan. Ia menilai pengalaman operator pelabuhan dalam menghadapi lonjakan arus barang membuat operasional tetap berjalan relatif lancar.

Dengan meningkatnya konsumsi domestik menjelang hari raya, Frans memprediksi pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dapat mencapai sekitar 5,7 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan normal yang berada di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen.

Meski demikian, kondisi ekonomi setelah Lebaran masih dipenuhi sejumlah ketidakpastian global.

“Faktor geopolitik dan kebijakan tarif Presiden Trump juga bisa mempengaruhi kondisi ekonomi ke depan. Jadi situasinya masih harus terus dipantau,” tandasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network