Rochdale 1844, Jejak Sejarah Gerakan Koperasi

Lukman Hakim
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Semolowaru sukses menjalankan usaha perdagangan dengan omzet tembus Rp100 juta. (Foto : Yudha).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa kembali menegaskan pentingnya peran koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Menurutnya, koperasi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memiliki akar sejarah dan ideologis yang kuat.

“Koperasi harus dibangun sebagai gerakan ekonomi berbasis kebersamaan yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat dari bawah, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan di daerah,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Khofifah menjelaskan, lahirnya koperasi modern tidak terlepas dari sejarah berdirinya koperasi pertama di Rochdale pada tahun 1844. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan gerakan koperasi di dunia.

“Saya kebetulan pernah berkunjung ke Rochdale di Greater Manchester. Di situlah koperasi lahir pada tahun 1844. Ini sesuatu yang sangat ideologis dan jarang kita bahas. Koperasi lahir sebagai jawaban atas dampak Revolusi Industri,” katanya.

Dia menyampaikan, pada masa itu muncul berbagai gagasan ekonomi sebagai respons terhadap perubahan sosial akibat Revolusi Industri. Salah satunya pemikiran Karl Marx yang tertuang dalam karya terkenalnya, Das Kapital.

Namun di sisi lain, Inggris mengembangkan sistem koperasi sebagai model ekonomi yang menekankan solidaritas sosial dan kebersamaan.

Khofifah menyebutkan, di berbagai negara Eropa koperasi tetap diberi ruang untuk berkembang berdampingan dengan perusahaan besar.

“Di banyak negara Eropa, di pusat-pusat perbelanjaan besar tetap ada ruang bagi koperasi. Mereka memberi kesempatan kepada koperasi agar usaha kecil tetap hidup dan berkembang,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan sejumlah koperasi di dunia yang mampu berkembang menjadi institusi ekonomi besar dan mengelola sektor strategis, seperti energi, perikanan hingga perbankan. Salah satu contohnya adalah Rabobank di Belanda yang awalnya merupakan koperasi petani dan kini menjadi salah satu lembaga keuangan besar di dunia.

“Ini menunjukkan bahwa koperasi bisa berkembang menjadi institusi ekonomi yang sangat besar dan kuat,” ucapnya.

Di Jatim sendiri, Khofifah menilai terdapat model koperasi yang cukup menarik, yakni koperasi yang mampu mengembangkan usaha hingga memiliki perusahaan atau korporasi sendiri.

“Biasanya korporasi besar yang memiliki koperasi. Tapi di Bojonegoro ada koperasi yang justru memiliki korporasi. Ini model yang bisa menjadi referensi untuk penguatan koperasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan bahwa penguatan koperasi juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Hal tersebut tercermin dari kebijakan pemisahan kementerian yang menangani koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah agar koperasi dapat berkembang lebih fokus.

“Gerakan koperasi harus kita bangun dengan napas ideologis. Tidak sekadar bisnis, tetapi benar-benar menjadi gerakan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dari bawah,” katanya.

Khofifah juga menyampaikan bahwa Jatim telah mencapai target pembentukan 8.494 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh desa pada tahun lalu. Ia berharap koperasi-koperasi tersebut dapat semakin aktif beroperasi, terutama menjelang peringatan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli.

“Hingga 15 Maret 2026 tercatat sebanyak 997 koperasi desa telah beroperasi dan mulai menjalankan aktivitas ekonomi di tingkat desa,” pungkasnya.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network