GROBOGAN, iNewsSurabaya.id – Momentum Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat nilai kebersamaan dan memperbaiki hubungan antarsesama. Hal ini disampaikan dalam ceramah Idulfitri yang menekankan pentingnya menghapus ancam-ancaman, dendam, serta memperbanyak silaturahmi dan ziarah.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Soderi mengingatkan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan titik balik untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Ia menyoroti masih banyaknya sikap saling mengancam dan menyimpan dendam yang justru merusak ukhuwah di tengah masyarakat.
“Jangan lagi ada ancam-ancaman dan dendam di antara kita. Idulfitri adalah saatnya kembali suci, saling memaafkan dengan tulus, bukan hanya di lisan tetapi juga di dalam hati,” ujar Ustaz Soderi di hadapan jamaah.
Momentum Idulfitri dimanfaatkan untuk menghapus dendam dan memperkuat silaturahmi. Ustaz Soderi dan Kiai Abdul Hadi sampaikan pesan penuh makna. Foto arif
Ia juga menegaskan bahwa saling memaafkan tidak boleh setengah hati. Menurutnya, memaafkan harus disertai niat untuk memperbaiki hubungan dan membuka lembaran baru tanpa prasangka. Dengan begitu, suasana damai dan harmonis dapat tercipta di lingkungan masyarakat.
Selain itu, Ustaz Soderi mengajak umat Islam untuk menghidupkan tradisi silaturahmi. Mengunjungi keluarga, tetangga, hingga sahabat menjadi salah satu amalan utama yang membawa keberkahan setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan.
“Silaturahmi itu memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Jangan sampai hubungan terputus hanya karena ego dan gengsi,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kiai Abdul Hadi juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan para pendahulu dan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan.
Ia mengingatkan pentingnya ziarah ke makam orang tua dan para alim ulama sebagai bentuk penghormatan dan refleksi diri. “Ziarah bukan sekadar tradisi, tetapi sarana mengingat kematian dan meneladani perjuangan orang-orang saleh,” tutur Kiai Abdul Hadi.
Menurutnya, mengunjungi makam orang tua juga menjadi bentuk bakti yang tidak terputus, meskipun mereka telah tiada. Doa yang dipanjatkan menjadi penghubung kasih sayang antara anak dan orang tua.
Kiai Abdul Hadi menambahkan bahwa Idulfitri adalah waktu yang tepat untuk menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang. Dengan saling memaafkan, bersilaturahmi, serta memperbanyak ziarah, diharapkan masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih damai dan penuh keberkahan.
“Jika hati sudah bersih dari dendam dan permusuhan, maka kehidupan akan terasa lebih ringan. Itulah makna kemenangan yang sesungguhnya di hari yang fitri,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
